NADIKABAR.COM — Pakar meteorologi menunjukkan pesawat Learjet 60 yang jatuh di Florida, Amerika Serikat (AS), pada Minggu (1/11) sempat melintasi lingkungan sistem awan konvektif berskala luas yang berpotensi menghadirkan bahaya turbulensi dan pembentukan es atau icing.
Peneliti meteorologi sekaligus Ketua Pokja Bencana Hidrometeorologi Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Deni Septiadi, menelaah kondisi tersebut menggunakan citra inframerah GOES-19, radar cuaca NEXRAD, dan data lintasan penerbangan Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B).
Rekonstruksi dilakukan setelah awak pesawat dilaporkan menghadapi icing, turbulensi sedang, dan presipitasi sebelum kecelakaan.
"Rekonstruksi satelit dan radar menunjukkan bahwa pesawat berada dalam lingkungan atmosfer konvektif yang berpotensi berbahaya," tulis Deni kepada NadiKabar.com, Selasa (3/11).
Namun, ia menegaskan kondisi tersebut belum memastikan bahwa gangguan atmosfer menjadi penyebab kecelakaan.
Hasil rekonstruksi Deni menunjukkan perkembangan sistem awan konvektif berskala luas di Florida Selatan menjelang kecelakaan.
Berdasarkan estimasi eksploratifnya, selubung awan dengan suhu kecerahan minus 32 derajat Celsius atau lebih dingin mencapai sekitar 225.000 kilometer persegi.
Sementara itu, area dengan suhu kecerahan minus 52 derajat Celsius atau lebih dingin diperkirakan mencapai 135.000 kilometer persegi. Sebagian puncak awan menunjukkan suhu kecerahan sekitar minus 70 hingga minus 80 derajat Celsius.
Menurut Deni, karakteristik tersebut mengindikasikan kemungkinan Mesoscale Convective System (MCS), yakni sistem badai terorganisasi yang terdiri atas sejumlah sel konvektif.
Luas selubung awannya juga melampaui persyaratan luasan Mesoscale Convective Complex (MCC). Namun, kontinuitas, durasi, dan bentuk sistem belum sepenuhnya tervalidasi.
Berdasarkan rekonstruksi lintasan penerbangan, pada pukul 17.46 UTC atau sekitar tiga menit sebelum kecelakaan, pesawat berada di ketinggian sekitar 35.000 kaki atau 10,7 kilometer, di bawah selubung awan dengan suhu puncak sangat dingin.
Sistem awan tersebut secara vertikal berpotensi menjangkau atau melampaui ketinggian penerbangan. Namun, citra satelit dan reflektivitas radar tidak secara langsung memastikan intensitas turbulensi ataupun kandungan es pada posisi pesawat.
Penjelasan mengenai bahaya badai petir bagi penerbangan juga disampaikan peneliti dari University of South Florida Joseph Post.
"Bahaya tersebut berasal dari turbulensi dan lapisan es akibat badai petir. Oleh karena itu, badai petir mungkin menjadi fenomena cuaca paling berbahaya dalam dunia penerbangan," kata Post dikutip dari WFLA.
Dalam analisisnya, Deni menjelaskan arus naik atau updraft pada Cumulonimbus yang berkembang kuat dapat mengangkut tetes air superdingin dan partikel es menuju lapisan atmosfer lebih tinggi.
Pilot dan CEO Jettly Justin Crabble menjelaskan bagaimana tetes air tersebut dapat memengaruhi pesawat.
"Ketika pesawat terbang menembus awan yang mengandung tetesan air sangat dingin, tetesan tersebut dapat membeku saat bersentuhan dengan badan pesawat. Bahkan, lapisan es yang relatif tipis sekalipun dapat memengaruhi cara pesawat terbang secara signifikan, begitu pula dengan dampak turbulensi terhadap pesawat," kata Crabble kepada LADbible, Senin (2/11).
Deni menyebut akumulasi es berpotensi mengubah profil aerodinamis sayap, meningkatkan hambatan, menurunkan gaya angkat, serta mengganggu sensor.
Secara terpisah, konsentrasi kristal es di bagian atas sistem konvektif dapat menimbulkan risiko ice crystal icing, terutama pada komponen mesin dan sensor tertentu. Kondisi tersebut belum dapat dipastikan terjadi pada lintasan Learjet.
Selain pembentukan es, interaksi arus naik, arus turun, serta perubahan kecepatan dan arah angin dalam lingkungan konvektif dapat membuat pesawat bergerak naik-turun secara mendadak.
Deni menjelaskan perpindahan vertikal dapat mencapai puluhan hingga ratusan meter dalam kondisi tertentu. Namun, besarnya perpindahan pada Learjet tidak dapat ditentukan hanya dari klasifikasi turbulensi.
Awak dilaporkan mengalami turbulensi sedang. Kemungkinan turbulensi yang lebih kuat pada fase berikutnya masih merupakan hipotesis yang perlu diuji.
"Namun, apakah gangguan atmosfer berperan langsung terhadap hilangnya kendali, atau apakah terdapat keterlibatan faktor mekanis dan struktural, belum dapat dipastikan. Investigasi National Transportation Safety Board (NTSB) tetap diperlukan untuk menetapkan penyebab kecelakaan," tulis Deni.