NADIKABAR.COM β€” Pakar energi dari Universitas Indonesia (UI) Ali Ahmudi Achyak mengusulkan agar Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) turut mendanai bioetanol sehingga memiliki harga jual yang kompetitif.

β€œBadan ini kan sudah pengalaman, ya (mendanai biodiesel). Jadi BPDP aja dikembangkan, yang tadinya sawit semua, sekarang ya dicobalah perkebunan lain juga,” ujar Ali ketika dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.

Dalam pengembangan biodiesel yang berbahan baku kelapa sawit, terdapat keterlibatan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam memberi pendanaan.

Adapun dana yang dikelola oleh BPDP bersumber dari Pungutan Ekspor (PE) produk kelapa sawit dan turunannya.

Dana BPDP itu selanjutnya digunakan untuk menutup selisih antara harga indeks pasar biodiesel dengan harga indeks pasar bahan bakar minyak jenis solar.

Menurut Ali, hal serupa juga bisa dilakukan untuk program bioetanol yang berbahan baku tebu, singkong, serta jagung.

Ali menyoroti BPDP yang semula bernama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Menurut dia, perubahan nama tersebut menunjukkan badan yang tadinya mengelola dana hanya dari perkebunan sawit, bisa diperluas kewenangannya untuk mengelola perkebunan lain yang menjadi bahan baku dari bioetanol, seperti tebu.

β€œKalau tadinya semula sawit semua, ya sekarang dicobalah ke perkebunan yang lain. Tebu juga bisa dan lain sebagainya, tinggal aturannya diperbaiki,” kata Ali.

Dengan demikian, Ali menyampaikan pemerintah tidak perlu membuat atau menambah badan baru lagi untuk memberi pembiayaan terhadap bioetanol.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan Indonesia tidak perlu mengimpor produk bahan bakar minyak (BBM) jika menerapkan bioetanol 50 (E50).

Meskipun demikian, Bahlil menyampaikan pemerintah tidak ingin kebutuhan etanol dalam program E50 mengandalkan impor dari negara lain.

Keharusan impor etanol untuk memenuhi kebutuhan E50, menurut Bahlil, sama saja dengan bergantung kepada negara lain.

β€œKami tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50 tetapi etanolnya diimpor dari luar. Sama aja itu. Kami ingin untuk memanfaatkan produksi kita dalam negeri,” ucap dia.

Oleh karena itu, ia akan menerapkan kebijakan secara bertahap.