Sebelumnya, dalam publikasi program Kanyaah pada April 2026, PGE melaporkan perbandingan bobot ikan sebesar 200 gram dan 330 gram per ekor, atau selisih sekitar 65 persen, disertai percepatan masa panen hingga 25 persen.
Selain pertanian dan perikanan, energi panas bumi dimanfaatkan untuk mengeringkan berbagai produk pangan, antara lain ubi, singkong, kentang, dan kopi.
Erwandi menjelaskan proses pengeringan menggunakan sistem perpindahan panas melalui pipa sehingga bahan pangan dan pakan ikan tidak bersentuhan langsung dengan fluida panas bumi.
"Jadi, dia modelnya seperti oven, si panas bumi ini hanya dilewatkan ke dalam pipa tubing di dalam sebuah 'chamber' (bilik/ruang). Jadi semuanya ini tidak bersentuhan langsung dengan panas bumi," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan pengembangan pemanfaatan langsung panas bumi di Kamojang merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat kemandirian ekonomi warga sekitar.
Program Kanyaah turut mendukung capaian PGE Area Kamojang yang telah meraih penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) Emas sebanyak 15 kali berturut-turut hingga 2026.