Investasi sektor pariwisata juga tumbuh 16,64%, lebih dari dua kali lipat laju pertumbuhan investasi nasional. Capaian tersebut semakin menegaskan potensi pariwisata dalam mendorong penciptaan lapangan kerja, pembangunan daerah, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pemerintah menempatkan pariwisata sebagai salah satu penggerak strategis pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Pada 2026, sektor pariwisata ditargetkan menarik 16-17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan berkontribusi sebesar 4,5-4,7% terhadap PDB. Pencapaian target-target tersebut tentu membutuhkan kebijakan terkoordinasi yang mampu mendorong permintaan sekaligus meningkatkan kualitas pariwisata.

Guna mendorong permintaan dan memperkuat konektivitas, Pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun, mencakup diskon transportasi dan insentif perpajakan untuk mendorong perjalanan wisata domestik.

Dukungan lainnya mencakup pemberian keringanan PPh bagi 552.000 pekerja sektor perhotelan, pengembangan keterampilan bagi 400.000 tenaga kerja pariwisata setiap tahun, serta perluasan akses visa dan konektivitas udara. Langkah-langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterjangkauan, aksesibilitas, dan kualitas layanan pariwisata.

"Kami juga ingin menyoroti betapa mendesaknya inovasi dan efisiensi di sektor pariwisata Indonesia. Pemerintah akan mengembangkan ekosistem yang mendorong pelaku usaha pariwisata untuk menghasilkan desain produk kreatif dengan harga yang kompetitif," imbuh Dradjad.