NADIKABAR.COM — Menurut sebuah laporan yang dibeberkan oleh Access Partnership, kontribusi publisher dan developer game di Indonesia lebih kecil dari Singapura. Padahal pasar game di sini lebih besar dibandingkan negara tetangga tersebut.
Direktur Game, Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Luhat Sihombing, menyampaikan bahwa sebenarnya tantangan yang dihadapi oleh developer lokal, yakni menangani kebiasaan gamer di Tanah Air. Jadi bukan mengacu pada kualitas game itu sendiri.
"Bukan soal di kualitas kalau saya bilang, tapi di behavior spending. Jadi perilaku spendingnya, kan banyak di Indonesia yang melakukan mobile game yang sebenarnya free-to-play. Dari free-to-play baru mereka purchasing setiap transaksi. Sementara game yang dikeluarkan developer kita adalah premium game yang mana dibayar di depannya," jelas Luhut kepada NadiKabar, di Grand Indonesia, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya masyarakat Indonesia lebih suka menghabiskan uang dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, tetapi dilakukan secara konsisten. Jadi Luhut berpendapat, kebiasaan gamer ini lah yang belum cocok dengan apa yang ditawarkan developer game di Indonesia.