NADIKABAR.COM β€” Pengurus Besar Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PB PSOI) menggelar Kejuaraan Nasional (Kejurnas) dan Liga Surfing Indonesia sebagai upaya memetakan kemampuan atlet sekaligus menjadi tolok ukur pembinaan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON).

Sekretaris Jenderal PB PSOI Tipi Jabrik mengatakan Kejurnas Surfing diikuti atlet yang mewakili pengurus provinsi (pengprov) PSOI dari berbagai daerah di Indonesia, dengan hasil kompetisi diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi daerah dalam mengukur kemampuan atletnya di tingkat nasional.

β€œIntinya, kejurnas ini arahnya ke PON. Hasilnya memberikan gambaran kepada provinsi masing-masing mengenai posisi atlet mereka di Indonesia,” kata Tipi kepada NadiKabar melalui panggilan telpon di Jakarta, Senin.

Menurut dia, hasil kejurnas dapat menjadi dasar bagi pengurus provinsi untuk memperoleh dukungan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) di daerah masing-masing, terutama untuk meningkatkan pembinaan, mengirim atlet ke berbagai kejuaraan, dan menyelenggarakan kompetisi di daerah.

Ia menilai keberadaan kejurnas penting karena pengurus provinsi membutuhkan tolok ukur untuk menunjukkan perkembangan dan prestasi atlet kepada KONI agar dukungan terhadap pembinaan selancar ombak dapat ditingkatkan.

Kejurnas tersebut diikuti sekitar 72 atlet yang bertanding dalam empat nomor, yakni shortboard putra, shortboard putri, longboard putra, dan longboard putri. Atlet terbaik dari nomor shortboard juga berkesempatan mengikuti divisi aerial.

Sejumlah peselancar nasional, termasuk Bronson Meydi dan I Made Pajar Ariyana, turut ambil bagian dalam kejuaraan tersebut.

Selain kejurnas, PB PSOI menyelenggarakan Liga Surfing Indonesia yang merupakan babak grand final dari rangkaian kompetisi antarklub selancar ombak yang digelar setiap tahun.

Tipi menjelaskan setiap klub terlebih dahulu menyelenggarakan seri kompetisi untuk menentukan atlet yang lolos ke babak final. Pada tahun ini, sejumlah klub menggelar tiga seri, dengan empat atlet terbaik dari setiap divisi di masing-masing klub berhak memperoleh kesempatan tampil pada grand final.

PB PSOI juga membuka kesempatan bagi atlet yang mengikuti kompetisi World Surf League (WSL) serta atlet yang dikirimkan pengurus provinsi untuk berpartisipasi dalam Liga Surfing Indonesia.

Menurut Tipi, hasil liga tersebut dapat menjadi salah satu acuan untuk melihat peringkat atlet di tingkat nasional sekaligus menjadi bahan pertimbangan dalam proses pemilihan atlet tim nasional.

β€œJuara-juara dari Liga Surfing Indonesia ini akan menjadi salah satu atlet dengan ranking tertinggi juga di ranking Indonesia. Jadi, ini juga menjadi salah satu cara untuk melihat peringkat atlet,” ujarnya.

Ia menegaskan peringkat Liga Surfing Indonesia bukan satu-satunya penentu pemilihan atlet tim nasional. Prestasi peselancar di kompetisi internasional, khususnya pada level tertinggi WSL, tetap menjadi pertimbangan utama.

Tipi mencontohkan Rio Waida yang berkompetisi di World Championship Tour (WCT) sebagai atlet dengan peringkat tertinggi nasional. Namun, Rio tidak dapat mengikuti Liga Surfing Indonesia karena ketentuan kompetisi bagi peselancar yang berlaga di WCT.

Sementara itu, Liga Surfing Indonesia tahun ini diperkirakan diikuti hampir 100 atlet yang berkompetisi dalam delapan divisi, yakni Under 10, junior putra dan putri, master, open putra dan putri, serta longboard putra dan putri.