NADIKABAR.COM — Kepala Sekolah Partai DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun menekankan pentingnya generasi z (gen z) untuk mewarisi semangat Sumpah Pemuda, saat membuka kegiatan Muda-Mudi Sekolah Partai PDI Perjuangan yang dihadiri oleh para generasi muda dari berbagai daerah.

Di samping pintu masuk Sekolah Partai DPP PDIP terpampang nyata potret para Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta, yang bersanding berdampingan dengan para tokoh lintas agama dan organisasi, mulai dari tokoh Nahdlatul Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, hingga tokoh-tokoh dari agama Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha.

"Pajangan sejarah itu bukan sekadar hiasan dinding. Itu adalah pengingat abadi bagi kita semua. Tanpa cucuran keringat, air mata, dan perjuangan bersama dari para pendahulu yang luhur itu, kita tidak akan pernah mungkin, kita yang berbeda latar belakang, berbeda suku, berbeda agama, bisa duduk bersama-sama di tempat ini hari ini," kata Komarudin di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, masa depan dan estafet kepemimpinan bangsa ini berada di pundak generasi muda.

Komarudin menegaskan bahwa pertemuan para pemuda hari ini bukanlah sebuah kebetulan semata, melainkan berakar kuat pada tonggak sejarah bangsa, yakni nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda.

"Jiwa persatuan yang melintasi zaman tersebut harus dirawat oleh generasi z Indonesia saat ini," ujarnya.

Kehadiran para anak muda yang antusias mematahkan anggapan bahwa generasi Z atau yang akrab disapa Gen Z, apolitis dan tidak tertarik dengan kegiatan partai politik.

Lebih lanjut, Komarudin memaparkan bahwa Sekolah Partai DPP PDIP dirancang untuk menghidupkan kembali warisan sejarah tersebut melalui tiga pilar utama yang sangat mendasar, yang dalam dunia filsafat menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya.

Pertama, terkait Logika: Diasah melalui ruang dialektika agar generasi muda mampu berpikir kritis serta solutif dalam menghadapi berbagai fenomena sosial, politik, maupun ekonomi masa kini dan masa depan.

Kedua, terkait Etika: Diwujudkan melalui nilai kebersamaan serta komitmen jangka panjang dalam menjaga ruang dialog dan harapan bangsa.

Ketiga, terkait Estetika: Diekspresikan melalui pelatihan konten kreator yang ideologis serta apresiasi keindahan budaya melalui pertunjukan seni seperti Angklung Revolution.

Melalui perpaduan tiga pilar tersebut, Komarudin berharap Gen Z mampu memproduksi konten digital yang tidak sekadar mengejar popularitas semata, melainkan konten yang bernilai ideologis, menjunjung moralitas, serta membawa semangat nasionalisme pemersatu bangsa.

Sementara itu, Sekretaris Sekolah Partai PDI Perjuangan, Nida, menjelaskan proses di balik kehadiran para peserta muda yang memadati lokasi acara tersebut merupakan hasil seleksi ketat dari ribuan pendaftar yang mengisi formulir secara daring.

Panitia melakukan verifikasi data mulai dari kartu tanda mahasiswa (KTM), kartu tanda penduduk (KTP), hingga rekam jejak media sosial sebelum akhirnya menyaring ratusan peserta terpilih.

Bahkan, Nida mengapresiasi perjuangan peserta asal Bandung yang datang menggunakan kereta cepat Whoosh dengan biaya mandiri demi mengikuti sekolah partai tersebut.

Dia menjelaskan tujuan diadakan acara tersebut, keluarga besar PDI Perjuangan ingin memperkenalkan agar kawan-kawan lebih dekat dan mengenal PDI Perjuangan.

"Bahwa ketika kita berbicara politik, kita enggak hanya cuman sekadar cerita soal elektoral, cerita soal kemenangan pemilu, tetapi juga ada amanah untuk menyampaikan edukasi ke masyarakat dan menjaga kewarasan demokrasi," ujar Nida.