"Resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai pekerja Korea Utara, proliferasi senjata, dan penjualan teknologi ganda semuanya diabaikan, jadi saya pikir kita bisa mengatakan bahwa kuasa sanksi PBB sudah hampir mati," tambah Pinkston.

Jelas bahwa Rusia dan Ukraina telah memperoleh pengetahuan penting mengenai medan perang modern lewat konflik yang tengah berlangsung, kata Pinkston, dengan kemunculan teknologi pesawat nirawaknya yang bisa dibilang sebagai salah satu kemajuan paling krusial.

"Seperti negara-negara lainnya, Korea Utara mengamati dengan cermat, 'sambal menyelam minum air', dan mengembangkan kemampuan pesawat nirawaknya sendiri," kata Pinkston, sambil menambahkan bahwa hal ini berimplikasi serius bagi militer Korea Selatan karena mereka juga berusaha mempertahankan kemampuan pertahanannya mengatasi generasi baru senjata nirawak Korea Utara.

Untuk membatasi pengiriman pekerja Korea Utara ke Rusia serta penyebaran senjata, laporan bersama tersebut mendesak Departemen Luar Negeri AS untuk bekerja sama dengan negara-negara lain guna membongkar jaringan perdagangan manusia dan menjatuhkan sanksi kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Laporan tersebut juga mendesak PBB untuk bekerja secara multilateral guna menyelidiki kompleks Yelabuga dan mendokumentasikan pelanggaran-pelanggaran yang telah terjadi. Selain itu, laporan tersebut menuntut pertanggungjawaban bagi mereka yang melakukan pelanggaran dan menuntut perlindungan bagi para korban.

Laporan tersebut menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di zona ekonomi khusus Yelabuga harus ditekan agar meninggalkan tempat tersebut. Beberapa diantaranya adalah perusahaan Eropa dan setidaknya satu perusahaan AS.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris