NADIKABAR.COM — Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan produktivitas pertanian menjadi salah satu pembelajaran penting Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam kunjungan kerja ke Chongqing, Tiongkok.
Saat mengunjungi Chongqing Academy of Agricultural Sciences (CQAAS), Rabu (14/10), Iftitah mempelajari bagaimana penelitian, teknologi digital, dan inovasi pertanian diterapkan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus mendukung pembangunan ekonomi perdesaan.
Pengalaman tersebut dinilai relevan bagi Indonesia, khususnya untuk mengembangkan kawasan transmigrasi di Papua, Sulawesi, dan berbagai wilayah lainnya menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pertanian modern dan industrialisasi.
"Kami belajar bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi baru, langkah tersebut harus berbasis riset dan ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya akan sporadis," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi lahan dan sumber daya alam yang besar. Namun, keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengandalkan perluasan lahan dan penyediaan infrastruktur.
Produktivitas juga membutuhkan pengetahuan mengenai kondisi tanah, pemilihan komoditas yang tepat, teknologi budidaya, keterampilan petani, dan kepastian pasar.
"Kita juga harus meningkatkan kapasitas para transmigran dan masyarakat lokal di kawasan tersebut agar mereka memiliki know-how," jelasnya.
Belajar dari AI yang Membantu Petani
Salah satu inovasi yang menarik perhatian Iftitah adalah sistem pertanian cerdas yang mengintegrasikan budidaya ikan dan sayuran dalam satu sistem produksi.
Melalui teknologi akuaponik, air dari kolam ikan dimanfaatkan kembali setelah melalui proses pengolahan untuk menyediakan nutrisi bagi tanaman. Air kemudian disirkulasikan sehingga penggunaan sumber daya menjadi lebih efisien.
Sistem tersebut juga didukung teknologi kecerdasan buatan dan otomasi, termasuk pemantauan kondisi budidaya, pemberian pakan secara presisi, dan pengendalian proses produksi.
Inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana penelitian dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang membantu meningkatkan hasil produksi, menghemat sumber daya, dan mengurangi pekerjaan berulang.
Selain itu, CQAAS mengembangkan penelitian mengenai karakteristik tanah dan kesesuaian tanaman agar kegiatan pertanian dapat disesuaikan dengan kondisi lahan. Iftitah menaruh perhatian pada bagaimana hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi diteruskan kepada petani untuk diterapkan dalam kegiatan produksi.
"Ada intervensi pemerintah dalam bentuk riset yang berjalan setiap bulan, dan hasilnya dibagikan kepada seluruh petani. Mereka juga memiliki pusat penelitian tanah," ungkapnya.
Menurut Iftitah, pendekatan tersebut memberikan pelajaran penting bagi Indonesia. Setiap kawasan transmigrasi memiliki karakteristik lahan, iklim, dan potensi komoditas yang berbeda sehingga pengembangannya harus didasarkan pada penelitian yang sesuai dengan kebutuhan setempat.
Teknologi yang diterapkan juga harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat untuk menggunakan, mengoperasikan, dan memeliharanya secara berkelanjutan.
Buka Peluang Investasi di Papua dan Sulawesi
Selain mempelajari teknologi, Iftitah juga mendorong penguatan kerja sama investasi pertanian antara Indonesia dan Tiongkok. Ia mengungkapkan telah berdiskusi dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, mengenai peluang pengembangan kerja sama di bidang pertanian, khususnya di Papua, serta sektor potensial lainnya, termasuk pariwisata.
"Saya sudah berdiskusi dengan Duta Besar Wang Lutong, dan kami berdua sepakat untuk mengembangkan kerja sama di bidang pertanian di Papua, serta industri lain seperti pariwisata," tuturnya.
Menurut Iftitah, kerja sama tersebut diharapkan dapat mempertemukan potensi sumber daya Indonesia dengan teknologi, pengalaman industri, investasi, dan akses pasar Tiongkok. Ia juga melihat peluang besar pengembangan komoditas unggulan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar internasional, termasuk pasar Tiongkok.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah durian, yang memiliki potensi dikembangkan lebih lanjut di Sulawesi melalui peningkatan produksi, pengolahan, dan penguatan rantai pasok.
"Tiongkok membutuhkan banyak durian. Anda bisa membawa investasi ke Indonesia, menanam durian di negara kami, misalnya di Sulawesi, dan mari kita nikmati durian tersebut bersama-sama," ujar Iftitah.
Menurutnya, kerja sama investasi perlu diarahkan untuk membangun kegiatan ekonomi di daerah penghasil komoditas, bukan sekadar memperbesar perdagangan bahan mentah. Hadirnya teknologi budidaya, industri pengolahan, fasilitas penyimpanan, dan jaringan pemasaran, masyarakat diharapkan memperoleh kesempatan lebih luas untuk bekerja dan meningkatkan pendapatan.
Iftitah juga menekankan bahwa investasi asing harus memberikan manfaat melalui transfer pengetahuan dan teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta keterlibatan pelaku usaha lokal. Dengan demikian, masyarakat bukan hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan usaha dan meningkatkan kemampuan ekonominya secara mandiri.
Teknologi untuk Menjawab Persoalan Nyata di Kawasan Transmigrasi
Iftitah menilai pengalaman Chongqing dapat menjadi referensi dalam mengembangkan solusi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia. Salah satu contohnya adalah pengembangan pertanian dan agroforestri di kawasan transmigrasi Barelang, khususnya Rempang, Kota Batam.
Ia menjelaskan BP Batam dan Pemerintah Kota Batam telah menawarkan sekitar 25 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan sementara untuk kegiatan pertanian masyarakat setempat sebelum pengembangan industri dilaksanakan. Peluang tersebut dapat dikaji lebih lanjut untuk mendukung kegiatan pembibitan, pengembangan komoditas yang sesuai dengan kondisi lahan, serta kegiatan pertanian produktif bagi masyarakat.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat membantu warga mempertahankan dan memperluas sumber penghidupan selama proses pembangunan kawasan berlangsung. Selain pertanian, Kementerian Transmigrasi juga mendorong pengembangan ekonomi perikanan dan kelautan melalui kolaborasi lintas kementerian, termasuk dukungan kapal bagi masyarakat pesisir.
Menurut Iftitah, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa setiap kawasan memerlukan pendekatan yang berbeda, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu menciptakan kegiatan ekonomi produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pendidikan, Industrialisasi, dan Pasar sebagai Penggerak Pertumbuhan
Dari rangkaian kunjungannya ke Tiongkok, Iftitah melihat pentingnya menghubungkan pendidikan, industrialisasi, dan kebutuhan pasar dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan.
Pendidikan dan penelitian diperlukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat serta produktivitas. Industrialisasi dibutuhkan untuk menciptakan nilai tambah dan membuka lapangan kerja. Sementara itu, permintaan pasar dan daya beli menjadi faktor penting agar kegiatan produksi dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Pendidikan adalah kunci pembangunan. Kedua, menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan melalui industrialisasi. Ketiga, yang baru saya pelajari dari kunjungan ini, adalah mengenai konsumsi," kata Iftitah.
Menurutnya, peningkatan produksi pertanian perlu disertai kepastian pasar, baik melalui industri pengolahan di dalam negeri maupun perluasan akses perdagangan internasional. Tanpa keterhubungan tersebut, peningkatan produksi belum tentu menghasilkan peningkatan pendapatan bagi petani.
Karena itu, transformasi transmigrasi diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi yang menghubungkan lahan, tenaga kerja, riset, teknologi, investasi, industri, dan pasar dalam satu perencanaan kawasan.
Iftitah berharap pembelajaran dari Chongqing serta penjajakan kerja sama dengan mitra Tiongkok dapat membantu mempercepat pengembangan pertanian modern dan industri berbasis potensi daerah di Indonesia.
Namun, penerapan teknologi dan model pembangunan tersebut tetap harus disesuaikan dengan karakteristik lahan, kebutuhan masyarakat, kesiapan infrastruktur, dan kelayakan ekonomi masing-masing kawasan.
Bagi Iftitah, tujuan akhirnya bukan sekadar menghadirkan teknologi modern atau meningkatkan jumlah investasi, melainkan memastikan masyarakat dapat menghasilkan lebih banyak, memperoleh pendapatan lebih baik, dan memiliki kesempatan kerja yang lebih luas.
"Jika kita konsisten, kita tidak akan kalah dengan produk-produk dari luar negeri," pungkasnya.