"Terhadap tersangka juga kita sudah lakukan pemeriksaan secara psikologis ya. Memang hasil tes psikologisnya sudah keluar dan sudah disampaikan kepada kami. Memang ada kecenderungan tersangka ini bersifat superior gitu ya," kata Roy.
Karakter dan tingkat kecerdasan tersebut terlihat dari cara tersangka menyusun alibi setelah melakukan eksekusi terhadap kedua korban. Pelaku bahkan memperhitungkan dengan matang setiap langkah yang harus diambil untuk membersihkan lokasi kejadian sekaligus memusnahkan jasad korban.
Tingkat rasionalitas ini juga menjadi alasan di balik keputusan kejamnya turut mengeksekusi anak tirinya yang masih berusia 4 tahun. Tersangka khawatir bila keberadaan sang anak berpotensi menjadi ancaman yang bisa membongkar kejahatannya.
"Berdasarkan hasil pengakuan dari tersangka kepada kami penyidik, bahwa ada kekhawatiran dari tersangka yang bersangkutan si anak ini akan menjadi saksi dalam peristiwa tersebut. Makanya ikut juga dihabisi," tutur Roy.
Dengan memanfaatkan kepintarannya, pelaku menghabiskan waktu berhari-hari murni hanya untuk memastikan seluruh bukti fisik kejahatannya musnah tanpa sisa. Ia memutilasi, membakar dan menggiling jenazah korban dengan tenang untuk mengamankan posisinya dari jerat hukum sebelum akhirnya melarikan diri ke Jombang.
"Kemudian terkait dengan waktu yang dibutuhkan yaitu kurang lebih dua hari ya, dua hari mulai dari dia melakukan peristiwa pembunuhan sampai dia mengamankan seluruh perbuatannya yang dia lakukan," ucapnya.
Bagus juga menyampaikan rasa penyesalannya. Ia meminta maaf kepada keluarga korban dan masyarakat atas perbuatan keji yang dilakukan.