Wakil Ketua Umum Bidang Maritim dan Pelabuhan DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), Harry Soetanto, menyambut positif pertumbuhan arus peti kemas. Menurutnya, peningkatan aktivitas perdagangan menjadi kabar baik di tengah tantangan ekonomi.

Berdasarkan perbandingan tahunan periode Januari-September 2025 dan 2026, pertumbuhan perdagangan internasional mencapai 6,85 persen. Nilainya meningkat dari 14,46 juta pada 2025 menjadi 15,45 juta pada 2026.

“Kita sangat gembira. Di dalam proses dinamika ekonomi kita yang sedang sulit, ternyata perdagangan kita tumbuh,” ucap dia.

Harry menilai pertumbuhan perdagangan internasional didorong perluasan pasar, terutama di Eropa dan Amerika Selatan.

Sementara itu, aktivitas perdagangan domestik relatif terbatas karena konsumsi belum menunjukkan pergerakan signifikan. Pertumbuhan internasional didorong ekspor sejumlah komoditas, misalnya turunan kelapa sawit, mesin dan peralatan, bahan kimia, serta elektronik.

“Kita menemukan beberapa pasar baru, utamanya di Eropa dan Amerika Selatan. Itu salah satu keberhasilan sehingga terutama ekspor-impor kita naik dibandingkan domestik,” sebutnya.

Dari sisi layanan, Harry menilai sejumlah pelabuhan di Jawa yang melayani ekspor dan impor relatif mampu memenuhi kebutuhan pengguna jasa, meski masih terdapat catatan.

Namun, kesiapan infrastruktur pelabuhan di wilayah timur Indonesia masih perlu mendapat perhatian.

“Pelabuhan-pelabuhan di Jawa, khususnya yang melakukan kegiatan importasi dan eksportasi, relatif sudah memenuhi. Tetapi untuk wilayah timur, memang masih cukup jauh,” tambah dia.

Akademisi dan praktisi manajemen rantai pasok Universitas Airlangga, Puspandam Katias, mengingatkan bahwa pertumbuhan arus peti kemas tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan perdagangan nasional.

Menurutnya, peningkatan volume arus peti kemas perlu diikuti peningkatan nilai tambah domestik, efisiensi rantai pasok, dan daya saing produk Indonesia.

“Pertumbuhan peti kemas merupakan indikator meningkatnya aktivitas logistik, tetapi belum cukup menjadi bukti meningkatnya daya saing perdagangan nasional,” tuturnya.