Dia menilai pertumbuhan arus peti kemas internasional sebesar 10,34 persen perlu dibandingkan dengan data ekspor-impor BPS, komposisi peti kemas ekspor dan impor, volume peti kemas isi dan kosong, serta perkembangan nilai perdagangan. Perbandingan tersebut diperlukan untuk memastikan pertumbuhan arus peti kemas benar-benar mencerminkan penguatan perdagangan luar negeri.

Puspandam juga menyoroti penggunaan kembali Terusan Suez secara bertahap oleh sejumlah perusahaan pelayaran di tengah risiko keamanan Laut Merah. Perubahan rute perdagangan global itu perlu dicermati karena dapat memengaruhi jaringan pelayaran dan distribusi barang.

Dia mengingatkan bahwa pertumbuhan volume harus diikuti efisiensi jaringan logistik secara keseluruhan.

“Tantangan terbesar ke depan adalah menghindari growth without network efficiency. Artinya, volume peti kemas bertambah, tetapi biaya, waktu, dan ketidakpastian distribusi di luar terminal tidak ikut menurun,” ungkapnya.

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) ALFI/ILFA Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menilai pertumbuhan arus peti kemas sepanjang Januari-September 2026 menjadi sinyal positif bagi aktivitas perdagangan dan logistik, khususnya di Jawa Timur.

Menurutnya, salah satu faktor pendorong pertumbuhan adalah semakin kuatnya konektivitas pelayaran internasional. Hal itu terlihat dari meningkatnya sejumlah kunjungan kapal internasional nonreguler di Terminal Teluk Lamong.

Penambahan layanan dan kunjungan kapal tersebut memberi lebih banyak pilihan pengiriman bagi pelaku usaha. Kondisi itu sekaligus membuka peluang untuk menjangkau pasar internasional.

“Pertumbuhan arus peti kemas ini menunjukkan bahwa kebutuhan pengiriman barang, terutama untuk kegiatan ekspor dan impor, terus berkembang. Ini menjadi indikasi positif bagi aktivitas perdagangan dan logistik di Jawa Timur,” papar dia.

Wibisono juga mengapresiasi langkah Pelindo meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan melalui penambahan fasilitas serta modernisasi peralatan bongkar muat. Salah satunya penambahan empat unit QCC dan 14 unit RTG di Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

Namun, bagi pelaku usaha logistik, yang terpenting adalah peningkatan kapasitas diimbangi kecepatan bongkar muat, kepastian jadwal kapal, kelancaran keluar masuk peti kemas, serta biaya logistik yang kompetitif.

Dia berharap pertumbuhan arus peti kemas terus diikuti peningkatan kualitas layanan dan konektivitas pelayaran.

“Dengan begitu, aktivitas logistik di Jawa Timur dapat berjalan semakin lancar dan mampu mendukung daya saing industri serta perdagangan, baik di pasar domestik maupun internasional,” pungkasnya.