Menurut dia, dana persiapan proyek dari bank pembangunan multilateral sebaiknya diarahkan untuk menutup kesenjangan agar modal swasta tidak berhenti pada tahap komitmen.
Kesiapan proyek juga harus diikuti pembangunan transmisi guna memastikan jaringan penghubung tersedia di lokasi pembangkit energi terbarukan.
“Sampai semester pertama 2025, baru 1,6 GW dari target 10 GW dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) sebelumnya yang beroperasi komersial. Karena itu, proyek seperti Green Energy Corridor Sulawesi perlu dipercepat dan pemanfaatan bersama jaringan transmisi perlu dibuka agar swasta dapat ikut berinvestasi,” jelas dia.