Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya menyiapkan pekerja migran sejak dari hulu melalui keterlibatan aktif perguruan tinggi, lembaga pelatihan, dunia usaha, dan pemerintah.
Melalui kerja sama KP2MI dan UKI, pemerintah berharap Migrant Center dapat menjadi simpul strategis dalam membangun ekosistem penyiapan pekerja migran Indonesia yang terampil, profesional, terlindungi, dan mampu bersaing di pasar kerja internasional.
Sementara itu, Rektor UKI Prof. Angel Damayanti menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, UKI telah memiliki sejumlah modal kelembagaan untuk mendukung program pemerintah, termasuk lembaga sertifikasi profesi (LSP), pusat bantuan hukum, pusat karier, serta jaringan kerja sama internasional.
"Kami sebenarnya sudah mempersiapkan ini selama beberapa tahun. UKI juga sudah memiliki kerja sama dengan sejumlah rumah sakit di Jepang dan Jerman, sehingga kami pernah mengirimkan lulusan keperawatan untuk bekerja di sana," ujar Angel.
Angel mengatakan, UKI juga memiliki pengalaman dalam pengembangan pusat pelatihan, khususnya pelatihan bahasa dan sertifikasi kompetensi. Karena itu, keterlibatan UKI dalam pengembangan Migrant Center menjadi peluang untuk memperluas kontribusi perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan memasuki pasar kerja internasional.
Angel menilai, program tersebut sangat relevan dengan tantangan pengangguran terdidik yang membutuhkan solusi konkret melalui perluasan akses pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan.
"Kami merasa sedih kalau mahasiswa dari daerah setelah lulus hanya membawa gelar, tetapi tidak bisa melanjutkan ke pekerjaan. Harapan mereka tentu bisa lulus, bekerja, dan membawa kebanggaan bagi keluarga di kampung halaman," imbuh Rektor.