NADIKABAR.COM — Kementerian Pertanian bersama Asian Development Bank (ADB) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) siap mengoptimalkan lahan kering sebagai lokasi pengembangan budi daya hortikultura melalui proyek Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP).
Menurut Direktur Pelindungan Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan Leli Nuryati, proyek yang direncanakan selama periode 2024-2029 akan menjangkau 13 kabupaten di tujuh provinsi dengan sasaran pengembangan seluas 10.000 hektare (ha) atau 1.000 klaster hortikultura yang melibatkan 25.000 petani.
"Lahan kering di Indonesia ibarat raksasa yang tengah tertidur. Dengan potensi yang besar, lahan marginal tersebut bisa menjadi penggerak ekonomi desa. Salah satunya untuk pengembangan budi daya hortikultura," ujar dia di Jakarta, Rabu.
Data Kementerian Pertanian menyebutkan, potensi lahan kering Indonesia mencapai 144,31 juta ha, yang mana 91,53 juta ha (63,4 persen) potensial untuk pertanian.
Dari 91,53 juta ha potensial itu, lahan yang cocok untuk budi daya hortikultura sayuran dataran tinggi sekitar 1,09 juta ha (1,19 persen) dan buah-buahan 53,59 juta ha (58,55 persen).
"Sayangnya budi daya tanaman hortikultura di lahan kering tersebut belum optimal," kata dia dalam webinar Penguatan Perlindungan dan Perbenihan dalam Ekosistem Hulu-Hilir Hortikultura di HDDAP yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani.
Pelaksanaan HDDAP mencakup beragam komoditas hortikultura, mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga tanaman obat.