NADIKABAR.COM — Pemerintah bersama unsur terkait berhasil memadamkan sekitar 1.516 hektare dari total 1.845 hektare lahan terbakar dalam tiga hari (28-30 September) sebagai upaya mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Kemenko Polkam Brigjen TNI Honi Havana mengatakan capaian tersebut menunjukkan upaya pemadaman yang dilakukan BNPB bersama unsur terkait rata-rata mencapai lebih dari 500 hektare per hari.
"Dari luas lahan terbakar seluas 1.845 hektare, sekitar 1.516 hektare itu berhasil dipadamkan. Artinya dalam tiga hari ini, rata-rata BNPB beserta seluruh unsur yang terlibat dalam upaya pemadaman ini memadamkan lebih dari 500 hektare per hari," kata Honi dalam konferensi pers Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla di Jakarta, Kamis.
Honi mengatakan percepatan penanganan karhutla dilakukan melalui sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah serta pengerahan sumber daya dari berbagai unsur yang memiliki kemampuan dan perlengkapan berbeda.
"Intinya kita semua satu tujuan untuk menanggulangi karhutla secara efektif dan efisien melalui sinkronisasi pemerintah pusat dan daerah," ujar dia.
Menurut dia, sinergi diperlukan agar kemampuan personel dan peralatan dari setiap unsur dapat digunakan secara bersama sehingga penanganan lebih efektif dan efisien dibandingkan jika masing-masing bekerja sendiri.
Dalam pengerahan personel, TNI menjadi institusi dengan jumlah personel terbesar, yakni 14.258 personel. Dukungan peralatan berasal dari Kementerian Pertahanan dan tiga matra TNI, berupa pompa pemadam, selang, nozzle, alat pelindung diri (APD), tabung oksigen, masker, drone, pompa punggung, ekskavator, dan perlengkapan lainnya.
Honi mengatakan upaya penanganan juga melibatkan Polri, BNPB, Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, pemerintah daerah, Manggala Agni, pemadam kebakaran, BMKG, Masyarakat Peduli Api, pengelola atau pemegang konsesi, serta unsur kesehatan yang membantu masyarakat terdampak.
Ia mengingatkan personel yang bertugas di lapangan untuk mengutamakan keselamatan dan kesehatan karena penanganan karhutla diperkirakan masih berlanjut dalam dua hingga tiga pekan ke depan.
Memasuki Oktober, Honi mengatakan sebagian wilayah mulai memasuki awal musim hujan, sedangkan sejumlah wilayah lainnya mengalami keterlambatan akibat dampak El Nino. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap potensi karhutla tetap diperlukan, terutama di wilayah rawan.
"Kami dari pemerintah dan unsur-unsur yang lain juga tidak mengendurkan upaya-upaya untuk menanggulangi karhutla," kata dia.
Honi menegaskan pemerintah akan mempertahankan kolaborasi antara TNI, Polri, BNPB, Kementerian Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri, pemerintah daerah, Manggala Agni, serta unsur lainnya untuk menangani karhutla secara efektif dan efisien.
"Kita akan berupaya maksimal, pemerintah ini bersungguh-sungguh agar karhutla ini dapat ditangani secara baik, efektif dan efisien," ujar dia.