Stabilitas pasokan juga diperkuat melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), serta optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD).

Dari sisi produksi dan distribusi, Pemerintah terus mendorong efisiensi biaya logistik sekaligus memitigasi risiko imported inflation melalui bea masuk 0% untuk LPG industri dan suku cadang pesawat, serta menyiapkan kebijakan serupa untuk bahan baku plastik. Dukungan juga diperkuat dengan pembiayaan sektor produktif melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sejalan dengan arahan Airlangga pada Rakornas Pengendalian Inflasi 2026 tanggal 24/9 lalu, langkah antisipatif juga diperkuat untuk menjaga ketahanan pangan melalui optimalisasi pengelolaan air dan jaringan irigasi, percepatan dan pengaturan pola tanam, pemanfaatan lahan produktif, pemetaan wilayah rawan, serta penguatan Early Warning System.

Keseluruhan langkah tersebut diarahkan untuk menjaga kesinambungan produksi dan distribusi pangan serta stabilitas harga hingga akhir tahun.

Sejalan dengan terjaganya stabilitas harga dan penguatan ketahanan pangan, dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus kumulatif USD7,25 miliar sepanjang Januari-Agustus 2026. Capaian tersebut ditopang surplus nonmigas USD28,54 miliar di tengah defisit migas USD21,29 miliar.

Defisit migas mencerminkan tingginya kebutuhan energi domestik, namun defisit yang terus berkurang sejak Juni menegaskan keberhasilan pemerintah dalam menjaga ketahanan energi terutama melalui implementasi B50 sejak 1 Juli 2026.

Pada Agustus 2026, surplus neraca perdagangan meningkat signifikan menjadi USD3,55 miliar, dari USD0,12 miliar pada Juli 2026, surplus untuk dua bulan berturut-turut. Perbaikan ini ditopang oleh menguatnya surplus nonmigas menjadi USD6,09 miliar dari USD3,10 miliar serta penurunan defisit migas menjadi USD2,54 miliar dari USD2,98 miliar.

Kinerja ekspor nonmigas ditopang oleh komoditas utama. Sepanjang Januari-Agustus 2026, ekspor besi dan baja naik 4,88% (USD19,18 miliar), CPO dan turunannya naik 6,57% (USD17,75 miliar), serta batu bara naik 4,31% (USD16,58 miliar). Ekspor industri pengolahan tumbuh 6,62% dan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor, mencerminkan berlanjutnya penguatan hilirisasi.