Dari sisi impor, struktur impor Januari-Agustus 2026 masih didominasi bahan baku/penolong (USD133,38 miliar) dan barang modal (USD36,74 miliar) yang bersama-sama mencakup 91,3% dari total impor, sementara barang konsumsi hanya 8,7%.

Tingginya impor mesin/peralatan mekanis (naik 15,26%, ctc) dan mesin/perlengkapan elektrik (naik 22,94%, ctc) menunjukkan meningkatnya kebutuhan input produksi dan barang modal sejalan dengan aktivitas produksi dan investasi domestik, serta mendukung keberlanjutan industri manufaktur.

Sejalan dengan itu, PMI Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global untuk September 2026 meningkat signifikan menjadi 52,4, dari 49,8 pada Agustus 2026, kembali ke zona ekspansi dan mencatat perbaikan kondisi bisnis terkuat sejak Februari 2026.

Penguatan ini menunjukkan semakin solidnya pemulihan aktivitas manufaktur, yang didorong oleh peningkatan pesanan baru dan produksi, pertumbuhan ekspor yang berlanjut selama dua bulan berturut-turut, masuknya proyek baru, serta membaiknya daya beli.

Pesanan baru tumbuh pada laju tercepat sejak Februari 2026, sementara pesanan ekspor tumbuh tercepat sejak Mei 2022. Seiring meningkatnya produksi, penyerapan tenaga kerja kembali tumbuh serta pembelian dan persediaan input turut meningkat.

Tekanan biaya juga mulai mereda, tercermin dari inflasi harga input dan output yang melambat ke level terendah dalam enam bulan.

Keyakinan pelaku usaha terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan juga tetap tinggi, seiring peluang berlanjutnya penguatan permintaan domestik, ekspor, dan proyek-proyek baru. Dengan membaiknya produksi, permintaan, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja, sektor manufaktur diharapkan terus menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Secara keseluruhan, terkendalinya inflasi, berlanjutnya surplus neraca perdagangan, dan kembalinya manufaktur ke zona ekspansi menjadi sinyal kuat bahwa perekonomian Indonesia bergerak ke arah yang semakin positif. Pemerintah akan terus mengawal keberlanjutan tren ini melalui bauran kebijakan yang antisipatif dan responsif sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga, industri semakin kompetitif, dan prospek ekonomi nasional ke depan tetap cerah.