Zulhas mengakui Indonesia memiliki tantangan dalam meningkatkan produktivitas kelapa karena banyak tanaman yang sudah tua dan telah lama ditanam. Karena itu, pemerintah akan mempercepat pembibitan dan peremajaan dengan varietas yang memiliki masa produksi lebih cepat.
"Kalau kelapa dalam kan lama, enam sampai tujuh tahun. Jadi kita harus punya varietas baru, tiga tahun sudah bisa berbuah. Jangan sampai kita tertinggal jauh dari Thailand," tegasnya.
Selain peremajaan, pengembangan kawasan juga diarahkan untuk memperkuat produktivitas perkebunan rakyat sekaligus memperluas basis produksi kelapa nasional.
Dalam Coconut Area Development Plan 2027, pengembangan kawasan kelapa direncanakan tersebar di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Zulhas menekankan pengembangan kelapa tidak berhenti pada penanaman dan perluasan lahan. Pemerintah juga akan memperkuat manajemen perkebunan dan industri pengolahan agar nilai ekonomi kelapa dapat dinikmati lebih besar di dalam negeri.
"Kedua, hilirisasi. Kelapanya ditangani Kementerian Pertanian, Menteri Hilirisasi, termasuk Danantara. Kita harus cepat mengejar, tadi bibit, manajemen perkebunannya, kemudian juga industrinya, pengolahannya," ujarnya.
Menurutnya, pengembangan industri hilir penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi mampu menghasilkan produk turunan kelapa dengan nilai tambah lebih tinggi.
Pengembangan kelapa juga menjadi bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperkuat perkebunan rakyat. Zulhas mengatakan arahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan sektor pertanian dan pangan sebagai prioritas pembangunan nasional.