Jaksa sebelumnya menyatakan bahwa Mackenzie "menginisiasi dan mengarahkan" praktik puasa ekstrem di lahan seluas sekitar 325 hektare miliknya di Hutan Shakahola. Menurut jaksa, terdapat "hierarki kematian yang terstruktur", di mana anak-anak harus meninggal terlebih dahulu, disusul remaja, perempuan, lalu laki-laki.

Hasil autopsi dan laporan kepolisian menunjukkan bahwa sebagian besar anak meninggal akibat kelaparan, serta ditemukan juga bukti kematian yang disebabkan oleh "asfiksia, tekanan pada leher, dan cedera traumatis di kepala," kata jaksa penuntut.

Pengadilan di Mombasa juga mendengar kesaksian bahwa dalam beberapa kasus, anak-anak sengaja diisolasi dan tidak diberi makan, sementara orang tua mereka menyaksikan hal tersebut.

"Ini adalah hari yang sangat, sangat penting," kata Francis Wanje (62), yang kehilangan delapan anggota keluarganya, termasuk seorang anak perempuan dan dua cucunya, dalam tragedi Shakahola.

"Kami berharap putusan ini menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat agar peristiwa seperti ini tidak pernah terjadi lagi," ujarnya kepada kantor berita AFP. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambannya respons pemerintah pada tahap awal kasus tersebut.

Sejak penemuan awal kuburan massal tersebut, semakin banyak jenazah anak-anak, perempuan, dan laki-laki ditemukan. Sehingga jumlahnya kini menjadi lebih dari 400 orang.