NADIKABAR.COM — Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung melakukan pengembangan berbagai klon unggul lokal kopi robusta Lampung hasil pengembangan petani lokal.
"Di Lampung terutama di Lampung Barat memang banyak sekali petani yang kreatif mengembangkan klon kopi robusta, dan kami menghargai serta mendukung kreativitas mereka," ujar Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Lampung Desti Arisandi di Bandarlampung, Jumat.
Ia mengatakan sebagai upaya mendukung kreativitas petani, pihaknya tengah mengembangkan klon kopi robusta unggul lokal tersebut di Kebun Induk Hanakau Lampung Barat.
"Di Kebun Induk Hanakau kita ada kebun koleksi dan kebun produksi seluas 10 hektare. Dengan adanya benih atau klon yang dihasilkan petani kami kembangkan dan disambung dengan pohon produksi yang sudah ada," ucap dia.
Dia melanjutkan pengembangan tersebut dilakukan sebab dari 10 hektare tanaman kopi yang ada, seluas 6 hektare merupakan tanaman kopi yang telah berusia 15-20 tahun sehingga kurang produktif.
"Tanaman tua ini disambung dengan klon unggul hasil pengembangan petani lokal agar bisa produktif lagi," tambahnya.
Menurut dia, sebelumnya sejumlah tanaman kopi di Kebun Induk Hanakau telah ada yang dikembangkan dengan sejumlah klon unggul lokal serta telah produktif kembali.
"Tanaman kopi yang disambung dengan klon unggul lokal ada yang sudah berbuah, padahal baru berusia dua tahun. Jadi dengan adanya koleksi klon unggul lokal ini bisa menambah variasi produksi kopi robusta Lampung," tambahnya.
Menurut dia, selain itu pengembangan tersebut juga sebagai bentuk memberikan penghargaan serta pengakuan atas kerja keras petani yang mengembangkan klon kopi robusta unggul lokal.
"Harapannya ke depan bisa dilakukan pelepasan varietas," ujar dia.
Diketahui sebelumnya produksi kopi robusta Lampung pada 2025 ada sebanyak 127.578 ton, meningkat dari 2024 yang produksinya hanya 120.377 ton.
Sedangkan komposisi luas areal tanam kopi robusta Lampung di 2025 seluas 152.527 hektare. Luas area tanam tersebut terdiri dari 7.921 hektare area tanaman belum menghasilkan (TBM), 137.792 hektare tanaman menghasilkan (TM) dan 6.814 hektare tanaman rusak atau tua.