Selama ini, sektor pertanian kerap dipersepsikan sebagai pekerjaan yang melelahkan, berisiko tinggi, dan menghasilkan pendapatan tidak menentu.
Ketidakpastian harga komoditas, ancaman gagal panen akibat perubahan iklim, keterbatasan lahan, serta sulitnya memperoleh modal menjadi hambatan bagi generasi muda untuk memasuki sektor tersebut.
Persaingan dengan sektor industri dan jasa juga semakin terasa. Kesempatan memperoleh penghasilan tetap di perkotaan sering kali dianggap lebih menarik dibandingkan mengelola usaha pertanian yang hasilnya bergantung pada musim dan kondisi pasar.
Oleh karena itu, regenerasi petani tidak cukup dilakukan melalui ajakan moral agar generasi muda kembali ke desa. Diperlukan perubahan mendasar dalam ekosistem pertanian sehingga anak muda memiliki alasan ekonomi yang kuat untuk menjadikan sektor ini sebagai pilihan masa depan.