NADIKABAR.COM — Psikolog anak dan keluarga Samanta Clara Elsener, S.Psi, M.Psi, Psikolog ⁠menyampaikan pendekatan persuasif yang bisa dilakukan orang tua dalam mengajak anak remaja untuk menggunakan media sosial (medsos) seperlunya dengan melakukan komunikasi dua arah.

kepada NadiKabar di Jakarta, Selasa, Samanta mengatakan orang tua perlu membuka topik pembicaraan yang relate dengan remaja, seperti apa yang disukai atau yang sedang mereka cari tahu. Setelah itu, berikan informasi pendek sebagai pengingat baiknya jangan lama-lama menggunakan media sosial.

“Remaja tidak suka diberi nasehat panjang berulang kali karena mereka butuh merasa memiliki otoritas terhadap dirinya, sehingga sebagai orang tua perlu menggunakan cara-cara yang komunikasinya dua arah dibandingkan satu arah,” kata Psikolog yang tergabung sebagai pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu.

Samanta mengatakan anak sejak usia tujuh tahun sudah bisa diajak membuat kesepakatan mengenai penggunaan layar (screen time), termasuk terkait penggunaan media sosial.

Ia juga menilai ⁠⁠anak yang minim menggunakan media sosial tetap bisa terhubung dengan teman-temannya. Hal tersebut bergantung pada keterampilan sosial yang bisa dikembangkan melalui interaksi secara langsung.

“Kuncinya terletak pada keterampilan sosial yang dapat dilatih dengan sering berinteraksi sosial langsung, jadi anak tetap terpapar informasi relevan dalam pergaulannya dan didampingi untuk mengatasi isu-isu sosial oleh orangtua, gimana mengatasi konflik, gimana membangun percakapan,” ujar Samanta.

Menurut Samanta, menumbuhkan kesadaran anak tentang pembatasan media sosial perlu dilakukan orang tua melalui koneksi bukan hanya aturan melainkan pemahaman.

Ia menekankan bahwa orang tua perlu membangun koneksi dengan anak sekaligus memberikan penjelasan mengenai alasan pembatasan, potensi bahaya media sosial, dan pentingnya kemampuan mengendalikan diri.

“Kenapa menahan diri itu penting supaya tidak terpengaruh, memang bahayanya apa, tanpa koneksi yang hangat dengan orang tua, anak akan mampu curi-curi kesempatan diam-diam punya media sosial atau mengaksesnya dari gawai milik teman,” tutur dia.

Sebelumnya, kesehatan jiwa generasi muda yang semakin terancam terutama menghadapi ruang digital menjadi tantangan besar. Laporan APJII 2026 mencatat penetrasi internet telah mencapai lebih dari 80 persen populasi, dengan dominasi generasi muda.

Kementerian Kesehatan menyebutkan dari 71 juta penduduk diperiksa dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Oktober, gejala depresi dan kecemasan pada anak sekolah dan remaja tercatat lebih dari empat kali lipat dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes Imran Pambudi di Jakarta, Senin (19/10) mengatakan ada lebih dari 380 ribu anak dengan indikasi depresi dan hampir 380 ribu dengan indikasi kecemasan.