Sejak saat itu muncul teori bahwa struktur tersebut merupakan sisa Bahtera Nabi Nuh. Namun klaim tersebut sejak lama diperdebatkan oleh kalangan geologi.

Seperti diberitakan NadiKabar, penelitian geologi pada 1996 oleh Lorence Collins dan David Fasold menyimpulkan Durupınar merupakan formasi geologi alami, bukan kapal yang membatu.

Penjelasan geologi menyebut bentuk unik Durupınar dapat terbentuk melalui kombinasi proses alam, termasuk pelapukan mineral vulkanik, pergerakan material dan tanah longsor.

Penelitian 2026 mencoba mendapatkan bukti fisik baru untuk menguji berbagai interpretasi tersebut. Selain pengeboran, tim telah mengumpulkan hampir 1.000 sampel tanah dari sekitar 150 lokasi, melakukan pemetaan dan pemindaian radar bawah tanah, menurut laporan Audacy.

Sampel inti yang diperoleh kini akan dianalisis di laboratorium. Hasil pengujian inilah yang akan menjadi bagian penting untuk mengetahui komposisi serta usia material di bawah Durupınar.

Untuk saat ini belum ditemukan kayu yang terkonfirmasi, konstruksi kapal, atau artefak buatan manusia yang dapat membuktikan bahwa Formasi Durupınar merupakan Bahtera Nabi Nuh.

Jadi misterinya masih jauh dari selesai. Mata bor yang pecah dan anomali bawah tanah memang memberikan target baru untuk diteliti, tetapi jawaban akhirnya harus menunggu hasil analisis laboratorium dan penelitian independen.