NADIKABAR.COM — Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti empiris manusia purba di Sulawesi menggunakan buah pinang sejak 25.000 tahun lalu sebagai obat untuk mengatasi sakit gigi.
Peneliti BRIN Fahri sekaligus Arkelog, menyampaikan melalui siaran persnya diterima, Senin, mengungkapkan, bahwa penyelidikan ini berawal dari analisis makroskopis dan mikroskopis terhadap bentuk serta kondisi gigi dari dua sampel individu manusia purba yang ditemukan di wilayah Sulawesi Selatan.
"Jadi, dasar analisisnya kita itu sebenarnya dari analisis makroskopisnya. Jadi, sebelum kami masuk ke analisis mikroskopis, ada hasil pengamatan kasat mata dulu, termasuk pengamatan terhadap kondisi paleopatologinya," ungkap Fakhri.
Penelitian ini dimotivasi oleh sebuah keanehan anatomis yang nilai membingungkan para peneliti selama ekskavasi kerangka manusia purba yang ada di Sulawesi.
Sampel pertama dari Leang Bulu Bettue di Kabupaten Maros, diperkirakan hidup pada masa Pleistosen akhir antara 25.000 - 16.000 tahun lalu. Gigi dari individu ini menunjukkan pola keausan atau kerusakan melingkar (circumferential wear) yang sangat parah dan tidak biasa pada bagian oklusal geraham.
Sampel kedua ditemukan di Leang Cappa Lombo, Bone, berasal dari masa Holosen Tengah antara 7.600 hingga 6.300 tahun lalu, di mana pola keausan melingkar yang sama ditemukan pada individu dewasa berjenis kelamin laki-laki berusia sekitar 33–50 tahun (dikenal sebagai spesimen CPL-R2).
Berdasarkan studi groundbreaking yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances oleh para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN bahwa manusia purba di Sulawesi telah menggunakan zat psikoaktif pengubah kesadaran sejak ribuan tahun.
Peneliti Geoarkeologi dari Griffith University Australia Basran Burhan menuturkan, teka-teki bentuk gigi yang tidak biasa ini awalnya sempat disangka sebagai alat bantu kerja tangan (tools).
"Waktu itu kita menganggap mungkin dipakai untuk memelintir kalau mau membuat tali atau semacamnya. Makanya tingkat keausan giginya sangat drastis, tidak normal," kata Basran sembari menyebut hipotesisnya bergeser setelah ditemukan benda berbetuk bulat yang dikulum di dalam rongga mulutnya.
Untuk membuktikan hipotesis tersebut, tim peneliti menerapkan metode analisis biomolekuler yang sangat canggih dan non-destruktif, yaitu Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS). Sampel karang gigi direndam larutan khusus untuk mendeteksi residu zat Kimia terkecil tertanam dalam jaringan gigi.
Hasilnya mengejutkan, analisis mendeteksi keberadaan arecoline, alkaloid utama yang terkandung dalam biji pinang (Areca catechu) dan bersifat psikoaktif sebagai stimulan sistem saraf pusat.
Peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi Budianto Hakim menjelaskan, penemuan ini menempatkan pinang sebagai zat adiktif tertua yang pernah diketahui manusia sebelum era zat modern lainnya
"Jadi sebelum manusia mengenal kafein, sebelum mengenal nikotin, zat adiktif yang pertama yang memberi stimulan pada saraf itu, yang pertama tertua adalah pinang. Sekitar 25 ribu tahun yang lalu," tuturnya.
Percobaan lanjutan di laboratorium dengan mereplikasi rongga mulut membuktikan, mengisap buah pinang utuh bahkan tanpa dicampur serbuk kapur sirih seperti metode modern saat ini, sudah mampu melepaskan senyawa arecoline dalam jumlah yang cukup untuk memicu efek fisiologis nyata pada tubuh manusia.
"Adanya tradisi mengunyah pinang dari dua masa Pleistosen hingga era Toalean ini menunjukkan, mungkin saja mereka berasal dari satu leluhur yang sama, terus berlanjut, dari budaya melukis sampai ke budaya Toalean," kata Peneliti Teknologi Litik dan Industri Alat Batu Prasejarah Universitas Hasanuddin Suryatman menambahkan.