NADIKABAR.COM — Pengamat media sosial sekaligus pengembang Drone Emprit Ismail Fahmi menilai transparansi algoritma platform media sosial adalah hal mendesak untuk mencegah dugaan pembatasan jangkauan konten atau shadowban percakapan publik, yang sulit diverifikasi secara independen.

Ismail kepada NadiKabar di Jakarta, Kamis mencontohkan tudingan shadowban terhadap Meta yang menjadi sorotan dalam konteks pemilu di Brasil, yang dinilainya sulit dibuktikan atau dibantah dari luar platform, karena pengguna hanya melihat penurunan jangkauan tanpa mengetahui penyebabnya.

"Ketika penjelasan resmi tidak ada, publik mengisi kekosongan itu dengan dugaan sendiri," kata Ismail.

Ia mengaitkan persoalan tersebut dengan perbincangan mengenai konten kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Dugaan pembatasan jangkauan konten memicu tudingan terhadap Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), meskipun kementerian itu menyatakan tidak pernah meminta pemblokiran.

Ismail menilai ketidakjelasan mekanisme distribusi konten dapat memperburuk kepercayaan publik terhadap pemerintah. Ia juga menyoroti kecenderungan Meta AI mengikuti arah pertanyaan pengguna yang berpotensi membuat jawaban chatbot seolah-olah membenarkan tudingan yang belum terbukti.