Meski demikian, ia mengingatkan agar kurikulum tidak berhenti pada kemampuan teknis pembuatan model semata.
Talenta AI, lanjutnya, juga dituntut memahami ekosistem pendukung seperti rekayasa data, komputasi awan, keamanan siber, integrasi sistem, etika AI, pelindungan data pribadi, dan kebutuhan bisnis.
"Kemampuan mengembangkan AI berbahasa Indonesia serta memahami konteks lokal juga penting. Kita tidak cukup mencetak orang yang mampu membuat model AI; kita membutuhkan talenta yang mampu membangun solusi yang aman, bermanfaat, dan benar-benar digunakan," jelasnya.
Lebih lanjut, Heru memaparkan empat langkah krusial untuk memperkuat program AI Talent Factory. Pertama, penerapan evaluasi berbasis hasil yang mengukur kompetensi lulusan, penyerapan kerja, hingga solusi yang diimplementasikan.
Kedua, perlunya perluasan kemitraan dengan BUMN, perusahaan rintisan (startup), dan pemerintah daerah agar karya talenta tidak mandek hanya sebagai prototipe.