NADIKABAR.COM — Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi menilai skala program AI Talent Factory perlu diperluas mengingat kebutuhan talenta digital nasional yang besar dan terus berkembang pesat.

Menurut Heru, program tersebut memiliki potensi yang kuat untuk menjembatani kesenjangan sumber daya manusia di bidang kecerdasan artifisial (AI), karena peserta langsung diarahkan untuk mengerjakan kasus nyata bersama perguruan tinggi, pakar, dan industri.

"Kita membutuhkan jalur yang jelas dari pendidikan, pelatihan, sertifikasi, proyek industri, hingga penyerapan tenaga kerja. Jangan sampai kita berhasil mencetak talenta AI, tetapi gagal menyediakan ruang bagi mereka untuk berkarya dan mengembangkan industri AI nasional," kata Heru kepada NadiKabar, Rabu.

Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute itu juga mengapresiasi langkah integrasi program ini dengan AI Talent Pool BUMN, yang dinilai sebagai langkah strategis untuk menghubungkan hasil pelatihan dengan kesempatan kerja.

Terkait kurikulum, Heru memandang arah pembelajaran saat ini sudah relevan karena mencakup AI tingkat lanjut hingga pengembangan large language model (LLM).

Meski demikian, ia mengingatkan agar kurikulum tidak berhenti pada kemampuan teknis pembuatan model semata.

Talenta AI, lanjutnya, juga dituntut memahami ekosistem pendukung seperti rekayasa data, komputasi awan, keamanan siber, integrasi sistem, etika AI, pelindungan data pribadi, dan kebutuhan bisnis.

"Kemampuan mengembangkan AI berbahasa Indonesia serta memahami konteks lokal juga penting. Kita tidak cukup mencetak orang yang mampu membuat model AI; kita membutuhkan talenta yang mampu membangun solusi yang aman, bermanfaat, dan benar-benar digunakan," jelasnya.

Lebih lanjut, Heru memaparkan empat langkah krusial untuk memperkuat program AI Talent Factory. Pertama, penerapan evaluasi berbasis hasil yang mengukur kompetensi lulusan, penyerapan kerja, hingga solusi yang diimplementasikan.

Kedua, perlunya perluasan kemitraan dengan BUMN, perusahaan rintisan (startup), dan pemerintah daerah agar karya talenta tidak mandek hanya sebagai prototipe.

Ketiga, pemerintah perlu menyediakan dukungan pascapelatihan berupa pendanaan, akses komputasi, dan pendampingan bisnis. Keempat, pemerataan akses agar talenta dari luar kota-kota besar dapat ikut berkembang secara inklusif.

"AI Talent Factory harus menjadi ekosistem yang menghubungkan talenta, riset, industri, dan pasar, bukan sekadar program pelatihan. Ukuran akhirnya adalah produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas, dan tumbuhnya produk AI karya Indonesia," ucap Heru.

Diketahui, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menyiapkan program AI Talent Factory sebagai upaya mencetak talenta digital baru guna mempercepat pembentukan ekosistem kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) nasional.

Kemkomdigi merancang AI Talent Factory sebagai pusat pengembangan talenta digital berbasis riset dan industri.

Talenta yang dilatih melalui program ini akan diarahkan untuk terlibat langsung dalam proyek strategis nasional, mencakup sektor-sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, layanan keuangan, hingga pertanian.