"Saat pasokan kurang, harga eceran melonjak," katanya.

Sebaliknya, ketika panen berlangsung serentak, harga yang diterima petani dapat turun tajam karena cabai merupakan komoditas yang mudah rusak dan memiliki keterbatasan daya simpan.

Ia menjelaskan harga tinggi di tingkat konsumen tidak selalu berarti petani memperoleh harga yang sama menguntungkannya, mengingat adanya perantara, biaya distribusi, serta perbedaan posisi tawar dalam rantai pemasaran.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Eliza mendorong penguatan kelompok tani dan koperasi desa agar dapat menyerap hasil panen, menjalin kemitraan dengan pasar induk maupun industri, serta memperluas pemasaran antardaerah.

"Koperasi desa dapat berperan besar dalam hal penyerapan produk lokal dan memasarkan ke daerah lain," ucap dia.

Ia juga menyarankan pengembangan pengolahan cabai menjadi produk seperti cabai kering dan pasta, penguatan fasilitas penyimpanan, serta pengaturan pola tanam untuk mengurangi gejolak harga ketika pasokan berkurang maupun saat panen melimpah.

Menurut Eliza, kebijakan stabilisasi perlu menjaga keseimbangan antara harga yang terjangkau bagi konsumen dan pendapatan yang layak bagi petani agar keberlanjutan produksi tetap terpelihara.

"Jadi mesti menyeimbangkan keduanya," tuturnya.