Kemudian Kamar Dagang Hangzhou ini juga bisa menjadi sumber transfer teknologi. Mendorong pertukaran pengetahuan, teknologi canggih, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal.
Selanjutnya mendorong pertumbuhan ekonomi bagi kedua negara. Mendorong alokasi investasi produktif yang berpotensi membuka lapangan kerja baru di berbagai sektor industri.
Serta menjadi jembatan dalam hal perizinan bagi kedua negara. Baik untuk kemudahan prosedur investasi maupun exit permit bagi talent yang berkepentingan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah siap memfasilitasi kemudahan berinvestasi serta kemitraan bisnis secara transparan dan adil.
"Harapan kami adalah agar semangat dan nilai-nilai kewirausahaan Hangzhou dapat berakar kuat di bumi Indonesia, tumbuh berkembang, dan pada akhirnya menghasilkan manfaat serta keberhasilan yang nyata bagi kedua belah pihak," ujar Ye Daifeng.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China, Sudrajat, menyambut positif peresmian perkumpulan pengusaha asal ibu kota Provinsi Zhejiang tersebut.
Sudrajat mengungkapkan bahwa organisasi yang dipimpinnya telah berdiri sejak diinisiasi pada tahun 1980 dan resmi dilantik pada tahun 1987. Ia merupakan pemimpin kedua setelah Wakil Presiden periode 1988-1993 Sudharmono, yang kala itu menjabat sebagai Ketua Kadin.
Menurut Sudrajat, pada tahun 1980 Indonesia dan Tiongkok sempat mengalami pemutusan hubungan diplomatik sejak tahun 1967 akibat peristiwa G30S/PKI. Di tengah kebuntuan politik tersebut, inisiatif diplomasi dagang mulai digagas.