"Waktu itu Pak Sudharmono melapor kepada Presiden Soeharto, 'Pak, kita sudah lama tidak ada hubungan dengan Tiongkok sejak tahun 1967, bagaimana kalau kita mulai buka dagang saja?'," kata Sudrajat menceritakan kembali sejarah tersebut.

Sudrajat menambahkan, dari fondasi sejarah perdagangan yang dirintis di masa lalu, kerja sama bilateral kedua negara kini telah berkembang pesat dan mencapai level yang jauh lebih modern.

Jika pada masa-masa awal volume perdagangan hanya berkisar pada angka belasan miliar dolar, kini nilai perdagangan Indonesia-Tiongkok telah menembus angka US$ 168 miliar dan terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

"Jika dulu di tahun 2006 perdagangan kita masih berada di angka belasan miliar dolar, kini nilainya telah menembus US$ 168 miliar. Angka ini kami targetkan dapat segera mencapai US$ 200 miliar," ujarnya.

Lebih lanjut, Sudrajat menekankan pentingnya peran Hangzhou sebagai pusat ekonomi digital dan inovasi teknologi China.

Kehadiran perhimpunan ini diharapkan tidak hanya mendorong investasi sektor riil dan UMKM, tetapi juga memperkuat kolaborasi di bidang ekonomi digital (digital intelligence economy), transfer teknologi, serta program beasiswa pendidikan bagi generasi muda kedua negara.

"Menjadi motor penggerak untuk menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, UMKM yang tentu bukan hanya dagang bakso dan segala macam, tapi UMKM yang membuat karburator mobil, yang membuat PCB telepon, dan segala macamnya. Baik UMKM di Indonesia yang bisa go digital, belajar dari Hangzhou, maupun UMKM Tiongkok yang bisa tumbuh bersama di Indonesia," tegas Sudrajat.