NADIKABAR.COM — Kabel internet yang direlokasi dari tiang ke bawah tanah berisiko kembali rusak jika pengerjaannya tidak mengikuti standar teknis. Hal itu disoroti Asosiasi Penyelenggara Jaringan Tetap Telekomunikasi (Jartatel).
Jartatel menuturkan kedalaman galian yang terlalu dangkal dinilai membuat jaringan rentan terdampak proyek saluran air, trotoar, hingga pembangunan fasilitas umum lainnya. Ketua Umum Jartatel Raymond Hubertus mengatakan, kedalaman galian di sejumlah pekerjaan lapangan masih tidak memadai sehingga berpotensi memicu kerusakan berulang.
"Pengerjaan relokasi kabel harus sesuai standar. Jika kedalaman pekerjaannya cuma 40-80 cm. Akhirnya, pada saat setelah relokasi, begitu ada bangunan saluran air di atasnya, pasti hancur," kata Raymond dikutip dari siaran pers yang diterima NadiKabar, Selasa (27/10/2026).
Raymond menambahkan bahwa alasan padatnya utilitas bawah tanah kerap digunakan untuk menjelaskan sulitnya mencapai kedalaman galian yang ideal. Padahal, keberadaan infrastruktur lain, termasuk kabel listrik milik PLN, semestinya dapat diantisipasi melalui metode pengerjaan yang sesuai prosedur.