NADIKABAR.COM — Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI) berharap kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) bisa terus ditingkatkan di bawah Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji. AGTI menilai, pertumbuhan industri yang dicapai sebelumnya perlu dilanjutkan dengan program nyata untuk mendorong pengembangan usaha, memperluas pasar, dan membuka lebih banyak lapangan kerja.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh 3,55% sepanjang 2025. Secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I, industri ini tumbuh 4,86% dan 6,36% pada kuartal II.

Penguatan juga terlihat pada industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki. Setelah tumbuh 3,31% sepanjang 2025, kelompok industri ini mencatat pertumbuhan 5,28% yoy pada kuartal I-2026 dan 11,30% pada kuartal II-2026.

Pertumbuhan kedua kelompok industri pada kuartal II-2026 tersebut lebih tinggi dibandingkan industri pengolahan nonmigas yang sebesar 5,32% dan ekonomi nasional sebesar 5,29% pada periode yang sama.

"Angka ini memberi gambaran bahwa industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki masih punya ruang untuk tumbuh. Kami berharap perkembangan yang baik ini semakin terasa bagi pelaku usaha, baik melalui bertambahnya pesanan, meningkatnya produksi, maupun kesempatan untuk berinvestasi," kata Sekretaris Jenderal AGTI, Rizal Tanzil Rakhman, dalam keterangan tertulisnya dikutip Minggu (4/10/2026).

Sepanjang Januari-Juli 2026, industri tekstil dan pakaian jadi serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki mencatat surplus perdagangan gabungan sebesar US$ 5,6 miliar. Rizal menilai capaian ini menunjukkan besarnya kontribusi kedua sektor tersebut terhadap perdagangan luar negeri Indonesia.

"Industri ini tidak hanya menghasilkan produk untuk kebutuhan masyarakat, tetapi juga memberikan pemasukan dari pasar ekspor. Potensinya masih besar. Karena itu, kami berharap dukungan terhadap pelaku usaha bisa terus berlanjut agar peluang yang ada dapat dimanfaatkan lebih luas," ujarnya.

Rizal berharap Sarmuji dapat melanjutkan dukungan terhadap industri sekaligus membuka ruang bagi pelaku usaha menyampaikan kebutuhan dan kendala di lapangan. Menurutnya, kepastian kebijakan menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menyusun rencana usaha.

"Kami berharap Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dapat lebih terbuka dan menerima masukan-masukan dari industri, serta meneruskan dan memperkuat kebijakan yang sudah berjalan baik. Bagi pelaku usaha, kepastian itu penting karena rencana investasi dan pengembangan usaha tidak dibuat untuk satu atau dua bulan saja," terangnya.

Meski pertumbuhan menguat, AGTI menilai masih ada sejumlah tantangan yang perlu dibahas bersama pemerintah, mulai dari daya saing, biaya energi dan logistik, pembaruan mesin, bahan baku, hingga akses pasar.

Rizal berharap pertumbuhan industri bisa dirasakan di seluruh rantai usaha, dari hulu hingga hilir. Karena itu, komunikasi antara pemerintah dan asosiasi dinilai penting agar kebijakan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan industri.

"Tentu masih ada tantangan yang dihadapi teman-teman di industri. Kami berharap komunikasi dengan pemerintah terus terjaga, sehingga persoalan di lapangan bisa dibicarakan dan dicarikan jalan keluarnya bersama. Dengan begitu, pertumbuhan ini bisa dirasakan oleh semakin banyak pelaku usaha," ujarnya.

AGTI berharap produsen bahan baku dan industri produk jadi bisa tumbuh bersama. Rizal mengatakan penguatan pemasok dalam negeri perlu diiringi dengan ketersediaan bahan baku yang berkualitas, kompetitif, dan tepat waktu.

Ia menambahkan, AGTI siap menjadi mitra pemerintah dengan menyampaikan masukan dari pelaku usaha. Dengan begitu, pertumbuhan industri diharapkan tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga mendorong investasi, memperluas pasar, dan menjaga lapangan kerja.

"Dengan pertumbuhan yang sedang menguat, kita memiliki momentum yang baik. Kami berharap di bawah kepemimpinan Bapak Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji, industri tekstil, pakaian jadi, kulit dan alas kaki dapat semakin kuat sebagai motor pertumbuhan industri nasional, penghasil devisa dan pencipta lapangan kerja," tutupnya.