NADIKABAR.COM — Nasib ironis dialami Indri Diyah (49), seorang janda penjual kerupuk keliling di Kota Probolinggo. Setiap hari, ia mengayuh sepeda ontel untuk berjualan demi memenuhi kebutuhan tiga anaknya.

Namun, setelah pendataan terbaru, status kesejahteraannya berubah dari desil 2 menjadi desil 6 hingga 10. Akibat perubahan tersebut, bantuan sosial yang sebelumnya rutin diterima kini tak lagi cair.

Sejak pagi, Indri kembali mengayuh sepeda ontel tuanya. Dengan kendaraan sederhana itu, ia berkeliling dari sekolah, perkantoran hingga pasar untuk menjajakan kerupuk dan tisu. Jarak yang ditempuhnya setiap hari tak jarang mencapai belasan hingga puluhan kilometer.

Indri merupakan seorang janda dengan tiga anak. Suaminya meninggal dunia pada 2008. Sejak saat itu, ia menjadi tulang punggung keluarga. Kini, Indri bersama anak-anaknya tinggal di Rusunawa Bestari, Kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo.

Penghasilan dari berjualan digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membayar sewa rusunawa, serta memenuhi kebutuhan makan dan pendidikan anak-anaknya.

Ironisnya, kondisi kehidupan Indri justru berbanding terbalik dengan data kesejahteraannya. Sebelumnya, Indri tercatat dalam desil 2. Namun setelah pendataan terbaru, status desilnya berubah menjadi 6 hingga 10.

Indri mengaku baru mengetahui perubahan tersebut dari seorang teman. Setelah melakukan pengecekan melalui aplikasi, ia mendapati data tersebut memang telah berubah.

Perubahan desil itu diketahui sekitar sebulan setelah dilakukan pendataan atau sensus. Persoalan semakin berat karena bantuan sosial yang biasanya dicairkan pada awal Agustus kini tidak lagi muncul.

"Sehari saya bawa 20 renteng kerupuk. Kadang habis, kadang tidak. Kalau sehari dapat Rp 20 ribu," ujar Indri, Kamis (27/8/2026).

Dengan penghasilan tersebut, Indri mengaku pendapatannya tidak sampai Rp 1 juta per bulan. Ia juga masih harus memenuhi kebutuhan pendidikan anaknya, termasuk seorang putranya yang duduk di kelas 2 SMA di Sekolah Rakyat.

Indri telah beberapa kali berupaya mencari penjelasan terkait perubahan data tersebut. Ia mendatangi Dinas Sosial dan kelurahan setempat. Namun hingga kini, data desilnya belum berubah.

Sementara itu, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo, Joko Santoso, menjelaskan bahwa BPS pada prinsipnya melakukan penginputan dan pengelolaan data yang bersumber dari berbagai kementerian dan lembaga.

Menurut Joko, perubahan data dari berbagai sumber dapat memengaruhi status desil seseorang. Perubahan tersebut bisa membuat desil seseorang naik maupun turun.

Ia menegaskan, BPS tidak melakukan verifikasi ulang terhadap seluruh data yang disetorkan oleh masing-masing sumber. Data yang masuk kemudian diolah atau dijalankan untuk menghasilkan pemutakhiran data.

"Data yang masuk ke BPS itu banyak sumbernya. Jadi saya tidak bisa mengatakan perubahan desil itu karena sumber tertentu," jelas Joko.

Menurutnya, perubahan desil Indri belum dapat dipastikan berasal dari sumber data tertentu. Terlebih, hasil Sensus Ekonomi belum digunakan sebagai dasar perubahan desil tersebut.

Kasus Indri menjadi gambaran bahwa data kesejahteraan sangat menentukan akses masyarakat terhadap berbagai program bantuan sosial.

Warga berharap proses pendataan tidak hanya mengandalkan data administratif, tetapi juga disertai verifikasi langsung di lapangan agar kondisi riil masyarakat tidak terlewat.