"Hal ini telah terabaikan dalam waktu yang cukup lama, jadi ada banyak ketertinggalan yang harus dikejar," tuturnya.
Lebih dari 1,5 juta kilometer kabel komunikasi bawah laut beroperasi secara global hingga awal 2026 menurut TeleGeography, perusahaan riset telekomunikasi.
Selain kabel telekomunikasi dan pipa minyak serta gas, jaringan kabel listrik bawah laut juga mengalirkan listrik dari ladang pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai ke daratan.
Perusahaan-perusahaan pertahanan pun mencium peluang. Pembuat kapal asal Italia, Fincantieri, mengumumkan rencana mengakuisisi saham mayoritas di empat perusahaan senilai sekitar 600 juta euro, guna memperluas kemampuan drone bawah laut dan permukaan, survei kelautan, dan komunikasi bawah laut.
Fincantieri tidak sendirian. Grup pertahanan besar termasuk Thales dari Prancis, mendirikan bisnis yang mencakup sonar, peperangan anti kapal selam, pendeteksian ranjau, dan sistem bawah laut otonom.
Perusahaan teknologi pertahanan di Jerman, Euroatlas, juga mengincar bisnis pertahanan dasar laut. Mereka mengembangkan kendaraan bawah laut otonom GrayShark yang dapat meluncur ke area yang ditugaskan dan menjalankan misi tanpa kontrol manusia terus menerus.
Alat ini dirancang menghindari rintangan dan mengikuti instruksi yang ditentukan sebelumnya ketika menemui sesuatu yang tak terduga. Saat memeriksa pipa misalnya, GrayShark dapat mengidentifikasi objek yang menyerupai ranjau, melaporkannya, dan menunggu operator memutuskan apakah ia harus menyelidikinya lebih lanjut.