Verineia Codrean selaku Chief strategy perusahaan itu membayangkan masa depan armada kendaraan otonom yang terus berpatroli di area strategis dasar laut dan akan berkumpul ketika salah satunya mendeteksi hal mencurigakan.
"Hampir mustahil menjangkau seluruh lautan. Anda hanya perlu mengetahui area mana yang lebih penting untuk pemantauan konstan," cetusnya.
Codrean juga membahas munculnya misi anti kendaraan bawah laut otonom (AUV), yang bertujuan untuk mendeteksi, melacak, dan mengidentifikasi kendaraan bawah laut otonom dan nirawak yang dioperasikan negara-negara lain.
"Karena pihak lain juga membangun kendaraan bawah laut otonom, Anda harus bisa mengklasifikasikan mana yang berasal dari negara yang bersahabat dengan NATO atau sekutu, dan mana yang bukan," kata Codrean. Hal tersebut meningkatkan prospek lebih banyaknya aktivitas mesin-lawan-mesin di bawah permukaan laut.
Namun Codrean tidak memperkirakan kendaraan otonom akan sepenuhnya menggantikan kapal selam dan kapal perang konvensional. "Yang pasti, akan ada peningkatan signifikan aktivitas drone melawan drone sampai Anda membutuhkan aset berawak untuk turut turun tangan," katanya.
Ia memperkirakan angkatan laut akan semakin memadukan sistem berawak dan otonom, membuat interoperabilitas keduanya makin penting.