Pencemaran di Teluk Persia menimbulkan tantangan tersendiri karena perairan ini relatif dangkal, bagian terdalamnya hanya sekitar 360 kaki atau 110 meter. Teluk ini memiliki luas yang relatif kecil, yaitu 93.000 mil persegi atau sekitar 241.000 kilometer.

Teluk Persia juga hanya memiliki satu jalur masuk dan keluar yang menghubungkannya dengan laut lepas, yaitu Selat Hormuz, yang mengarah ke Teluk Oman dan kemudian Samudra Hindia. Kondisi ini membuat polutan cenderung sulit menyebar atau terencerkan dengan mudah.

Bernhard Riegl, profesor di Nova Southeastern Univeristy menyebut, terlepas dari negara atau kapal mana yang menjadi sasaran dalam perang ini, dampaknya akan meluas.

"Jika kita mengambil setetes minyak dan memasukkannya ke perairan di sisi Iran, tempat air masuk ke Teluk Persia, setahun kemudian minyak itu akan berada di Kuwait. Dua tahun kemudian, minyak itu akan berada di sisi Teluk Persia yang berbatasan dengan Oman dan mengapung ke luar," kata Reigl.

Menurut Reigl, Perang Teluk yang terjadi pada tahun 1991 seharusnya menjadi pelajaran penting. Dalam peristiwa tersebut, pasukan Iran yang mundur membakar ratusan minyak di Kuwait hingga menciptakan bencana lingkungan yang dampaknya dirasakan di seluruh kawasan Teluk Persia.

Studi menunjukkan perang Iran-AS meningkatkan pencemaran minyak di Teluk Persia dua kali lipat, memicu dampak lingkungan dan kesehatan. (Foto: AFP/-)

"Garis pantai terdampak dengan sangat parah. Bahkan, di banyak wilayah Arab Saudi, jika Anda menggali pasir, masih ada sisa minyak lama di dalamnya. Minyak itu memang sangat sulit dihilangkan," kata Reigl.

Ia mengkhawatirkan puluhan juta penduduk kawasan Teluk yang bergantung pada instalasi desalinasi, yaitu fasilitas yang mengubah air laut menjadi air minum.

Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menghasilkan sekitar sepertiga dari total air hasil desalinasi di dunia. Sebagai contoh, Bahrain dan Kuwait hampir sepenuhnya bergantung pada desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum.

Pencemaran minyak di Teluk Persia dapat merusak fasilitas-fasilitas ini dan membahayakan pasokan air.

Ketika ratusan juta galon minyak sengaja dilepaskan ke Teluk Persia selama Perang Irak, Kuwait harus mengandalkan Arab Saudi, dan negara-negara lain untuk menyediakan ratusan kapal tanker air dan truk pengangkut air minum dalam kemasan.

Salah satu dampak kerusakan lingkungan di Teluk Persia yang mungkin tidak terduga adalah terganggunya pemahaman ilmuwan mengenai dampak perubahan iklim terhadap laut di seluruh dunia.