Riegl menyebut suhu tinggi di Teluk Persia kurang lebih mencerminkan kondisi yang diperkirakan akan dialami kawasan tropis laut sekitar tahun 2100.
Ia menilai Teluk Persia memiliki sumber daya genetik yang sangat berharga, bahkan termasuk yang paling berharga di antara seluruh laut di Bumi. Pasalnya, banyak proses adaptasi yang diperlukan telah lebih dahulu terjadi di Teluk Persia.
"Jika kita ingin mengetahui seperti apa kondisi laut secara umum pada akhir abad ini. Teluk Persia adalah kawasan yang perlu diamati," kata Reigl.
Para ilmuwan turut mengungkap dampak terhadap satwa laut dinilai karena akses fisik ke jalur perairan yang dilanda konflik sangat terbatas.
Lebih lanjut, Teluk Persia memiliki ekosistem yang dipenuhi beragam kehidupan. Kawasan ini menjadi habitat bagi beberapa spesies penyu, ratusan spesies ikan, serta populasi dugong atau sapi laut terbesar kedua di dunia.
"Salah satu kumpulan hiu paus terbesar di dunia dekat ladang minyak South Pars, di kawasan perbatasan Qatar dan Iran," kata Riegl.
Pulau-pulau kecil berpasir di lepas pantai dan hamparan padang lamun yang luas menjadikan Teluk Persia sebagai habitat ideal untuk bertelur dan berkembang biak. Hutan bakau yang luas dan struktur terumbu karang menyediakan tempat berlindung bagi lumba-lumba, burung laut dan hiu paus.
Kendati demikian, perang yang terjadi pada musim semi bertepatan dengan musim berkembang biak para satwa. Biota laut yang tangguh dinilai mampu bertahan hidup di perairan ini.
Teluk Persia tidak hanya menjadi salah satu laut terpanas di dunia, tetapi juga mengalami perubahan suhu yang tajam sepanjang tahun.
Sebagai contoh, suhu perairan di dekat Kota Kuwait dapat mencapai sekitar 36 derajat Celcius pada puncak musim panas, kemudian turun hingga sekitar 16 derajat Celsius.
Razan Khalifa Al Mubarak, Utusan khusus UEA dari Menteri Luar Negeri untuk urusan alam, menyerukan penghentian serangan di kawasan Teluk Persia melalui sebuah tulisan opini pada awal tahun ini.
"Meski biaya finansial akibat kerusakan dapat dihitung, hilangnya ekosistem dan spesies tidak dapat diukur dengan cara yang sama. Setelah mengalami kerusakan, sistem-sistem ini mungkin tidak akan pulih," tulisnya.