NADIKABAR.COM — Perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) ternyata juga meninggalkan jejak kotor dan beracun untuk lingkungan. Pasalnya, sebuah studi mengungkap bahwa pencemaran minyak di laut Persia melonjak 2 kali lipat setelah perang bergejolak.

Bom dan rudal yang digunakan dalam perang Iran-AS telah melepaskan logam berat serta bahan kimia berbahaya ke atmosfer.

Sementara itu, serangan antara AS-Israel dan Iran menghantam fasilitas minyak, memicu kebakaran yang menyelimuti Teheran dengan asap hitam pekat serta hujan yang tercampur minyak. Hal ini mengakibatkan jutaan masyarakat terpapar polusi yang berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.

serangan-serangan ini juga berdampak pada Teluk Persia. Serangan terhadap kapal dan infrastruktur minyak di jalur air teresebut telah menghasilkan tumpahan minyak yang terlihat dari luar angkasa.

Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Uni Emirat Arab (UEA) menyebut bahwa tumpahan minyak itu berasal dari kapal tanker di Emirat Umm Al Quwain. Oleh sebab itu, pihak berwenang tengah berupaya menahan dampak lingkungan.

Belum dikonfirmasi apakah tumpahan tersebut terkait dengan serangan Iran, namun hal ini dinlai sebagai tanda lain dari risiko besar yang dihadapi oleh Teluk Persia. Seiring berlanjutnya konflik, para ahli memperingatkan terjadinya krisis kontaminasi yang lebih luas.

Selama berbulan-bulan, kapal kargo dan kapal tanker minyak menjadi sasaran di Selat Hormuz, sebuah rute pelayaran vital untuk minyak dan gas antara Teluk Persia dan Teluk Oman.

Anggota kelompok ahli oseanografi satelit di University of South Florida, Brian Barnes menyebut perkembangan dari benturan kapal hingga kerusakan lingkungan terlihat jelas dalam banyak kasus.

"Pada beberapa kapal besar yang menjadi sasaran, kami melihat jejak tumpahan yang terus memanjang hingga ratusan kilometer dari lokasi serangan," kata Barnes Rabu (23/10).

Teluk Persia telah lama tercemar polusi minyak, akan tetapi penelitan yang dilakukan oleh Barnes dan ilmuwan lain membandingkannya dengan perang yang terjadi pada Maret 2026 dan periode yang sama tahun lalu. Polusi tersebut menunjukkan peningkatan yang tajam.

Barnes memperkirakan pencemaran minyak melonjak dua kali lipat di Teluk Persia, jika dibandingkan dengan yang mereka perkirakan bila konflik tidak terjadi.

"Apa yang kami lihat adalah dua kali lipat jumlah minyak permukaan di area Teluk Persia dibandingkan dengan yang kami perkirakan jika tidak ada konflik besar," kata Barnes.

Meski demikian, ia mencatat, citra satelit hanya dapat menunjukkan apa yang ada di permukaan air dan bukan ketebalan minyaknya. Citra tersebut akan memberikan gambaran lebih akurat mengenai tingkat kontaminasi.

Pencemaran di Teluk Persia menimbulkan tantangan tersendiri karena perairan ini relatif dangkal, bagian terdalamnya hanya sekitar 360 kaki atau 110 meter. Teluk ini memiliki luas yang relatif kecil, yaitu 93.000 mil persegi atau sekitar 241.000 kilometer.

Teluk Persia juga hanya memiliki satu jalur masuk dan keluar yang menghubungkannya dengan laut lepas, yaitu Selat Hormuz, yang mengarah ke Teluk Oman dan kemudian Samudra Hindia. Kondisi ini membuat polutan cenderung sulit menyebar atau terencerkan dengan mudah.

Bernhard Riegl, profesor di Nova Southeastern Univeristy menyebut, terlepas dari negara atau kapal mana yang menjadi sasaran dalam perang ini, dampaknya akan meluas.

"Jika kita mengambil setetes minyak dan memasukkannya ke perairan di sisi Iran, tempat air masuk ke Teluk Persia, setahun kemudian minyak itu akan berada di Kuwait. Dua tahun kemudian, minyak itu akan berada di sisi Teluk Persia yang berbatasan dengan Oman dan mengapung ke luar," kata Reigl.

Menurut Reigl, Perang Teluk yang terjadi pada tahun 1991 seharusnya menjadi pelajaran penting. Dalam peristiwa tersebut, pasukan Iran yang mundur membakar ratusan minyak di Kuwait hingga menciptakan bencana lingkungan yang dampaknya dirasakan di seluruh kawasan Teluk Persia.

Studi menunjukkan perang Iran-AS meningkatkan pencemaran minyak di Teluk Persia dua kali lipat, memicu dampak lingkungan dan kesehatan. (Foto: AFP/-)

"Garis pantai terdampak dengan sangat parah. Bahkan, di banyak wilayah Arab Saudi, jika Anda menggali pasir, masih ada sisa minyak lama di dalamnya. Minyak itu memang sangat sulit dihilangkan," kata Reigl.

Ia mengkhawatirkan puluhan juta penduduk kawasan Teluk yang bergantung pada instalasi desalinasi, yaitu fasilitas yang mengubah air laut menjadi air minum.

Enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menghasilkan sekitar sepertiga dari total air hasil desalinasi di dunia. Sebagai contoh, Bahrain dan Kuwait hampir sepenuhnya bergantung pada desalinasi untuk memenuhi kebutuhan air minum.

Pencemaran minyak di Teluk Persia dapat merusak fasilitas-fasilitas ini dan membahayakan pasokan air.

Ketika ratusan juta galon minyak sengaja dilepaskan ke Teluk Persia selama Perang Irak, Kuwait harus mengandalkan Arab Saudi, dan negara-negara lain untuk menyediakan ratusan kapal tanker air dan truk pengangkut air minum dalam kemasan.

Salah satu dampak kerusakan lingkungan di Teluk Persia yang mungkin tidak terduga adalah terganggunya pemahaman ilmuwan mengenai dampak perubahan iklim terhadap laut di seluruh dunia.

Riegl menyebut suhu tinggi di Teluk Persia kurang lebih mencerminkan kondisi yang diperkirakan akan dialami kawasan tropis laut sekitar tahun 2100.

Ia menilai Teluk Persia memiliki sumber daya genetik yang sangat berharga, bahkan termasuk yang paling berharga di antara seluruh laut di Bumi. Pasalnya, banyak proses adaptasi yang diperlukan telah lebih dahulu terjadi di Teluk Persia.

"Jika kita ingin mengetahui seperti apa kondisi laut secara umum pada akhir abad ini. Teluk Persia adalah kawasan yang perlu diamati," kata Reigl.

Para ilmuwan turut mengungkap dampak terhadap satwa laut dinilai karena akses fisik ke jalur perairan yang dilanda konflik sangat terbatas.

Lebih lanjut, Teluk Persia memiliki ekosistem yang dipenuhi beragam kehidupan. Kawasan ini menjadi habitat bagi beberapa spesies penyu, ratusan spesies ikan, serta populasi dugong atau sapi laut terbesar kedua di dunia.

"Salah satu kumpulan hiu paus terbesar di dunia dekat ladang minyak South Pars, di kawasan perbatasan Qatar dan Iran," kata Riegl.

Pulau-pulau kecil berpasir di lepas pantai dan hamparan padang lamun yang luas menjadikan Teluk Persia sebagai habitat ideal untuk bertelur dan berkembang biak. Hutan bakau yang luas dan struktur terumbu karang menyediakan tempat berlindung bagi lumba-lumba, burung laut dan hiu paus.

Kendati demikian, perang yang terjadi pada musim semi bertepatan dengan musim berkembang biak para satwa. Biota laut yang tangguh dinilai mampu bertahan hidup di perairan ini.

Teluk Persia tidak hanya menjadi salah satu laut terpanas di dunia, tetapi juga mengalami perubahan suhu yang tajam sepanjang tahun.

Sebagai contoh, suhu perairan di dekat Kota Kuwait dapat mencapai sekitar 36 derajat Celcius pada puncak musim panas, kemudian turun hingga sekitar 16 derajat Celsius.

Razan Khalifa Al Mubarak, Utusan khusus UEA dari Menteri Luar Negeri untuk urusan alam, menyerukan penghentian serangan di kawasan Teluk Persia melalui sebuah tulisan opini pada awal tahun ini.

"Meski biaya finansial akibat kerusakan dapat dihitung, hilangnya ekosistem dan spesies tidak dapat diukur dengan cara yang sama. Setelah mengalami kerusakan, sistem-sistem ini mungkin tidak akan pulih," tulisnya.