Ia mencontohkan masyarakat di daerah Ciputat, Tangerang Selatan dan Lenteng Agung, Jakarta dapat memiliki kebiasaan keuangan serta karakteristik ekonomi yang berbeda, meskipun kedua wilayah tersebut relatif berdekatan.
"Ciputat sama Lenteng Agung, masing-masing punya big data sendiri, ya. Punya karakter sendiri," katanya.
Menurut Tedy, pemahaman terhadap kondisi sosial, demografi, dan kebiasaan masyarakat menjadi pertimbangan dalam memanfaatkan teknologi untuk melayani kebutuhan pembiayaan usaha mikro dan kecil.
Ia menjelaskan sebagian pelaku usaha di sektor informal memiliki arus kas, tetapi belum tentu dapat memenuhi seluruh persyaratan untuk memperoleh kredit perbankan.
Selain itu, sebagian usaha mikro dikelola langsung oleh pemiliknya, sementara keuangan usaha dan rumah tangga masih kerap bercampur sehingga diperlukan pemahaman terhadap kondisi keuangan nasabah.
"Tapi memang harus paham ya, karakteristik masyarakat setempat," ucapnya.
Tedy menambahkan model penilaian kredit dapat terlebih dahulu disusun berdasarkan data dan metode perhitungan yang sesuai, sebelum dikembangkan untuk diintegrasikan dengan sistem inti perbankan (core banking system).