NADIKABAR.COM — Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo) memperkirakan kredit Bank Perekonomian Rakyat (BPR) tumbuh sekitar tiga persen hingga akhir 2026, di tengah potensi peningkatan permintaan pembiayaan menjelang Natal dan tahun baru.
Ketua Umum Perbarindo Tedy Alamsyah mengatakan pertumbuhan kredit BPR pada akhir tahun diperkirakan tidak jauh berbeda dari kinerja sebelumnya, meskipun ia optimistis pertumbuhan masih berpeluang sedikit lebih tinggi.
"Saya pikir (pertumbuhan kredit BPR hingga akhir tahun) tidak akan jauh dari situ (sekitar 3 persen). Mungkin di atas itu dikitlah," kata Tedy seusai Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional (Munas) XII Perbarindo di Jakarta, Senin.
Tedy menjelaskan permintaan kredit BPR biasanya meningkat menjelang hari besar keagamaan karena pelaku usaha mikro dan kecil membutuhkan tambahan modal kerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Karena memang ada kebutuhan untuk modal kerja, toh? Penyediaan bahan baku, apa segala macam, itu satu," ujarnya.
Menurut dia, peningkatan kebutuhan pembiayaan juga lazim terjadi menjelang Idulfitri dan musim masuk sekolah, ketika kegiatan usaha masyarakat mengalami peningkatan.
Berdasarkan data yang disampaikan Tedy dalam forum tersebut, kredit BPR tumbuh 3,12 persen secara tahunan pada Juli 2026, sedangkan pembiayaan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) meningkat 6,23 persen.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 16 Oktober 2026 melaporkan kredit industri BPR dan BPRS secara gabungan tumbuh 3,37 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Pada periode yang sama, aset industri meningkat 3,22 persen dan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 3,14 persen.