"Penurunan imbal hasil obligasi AS berpotensi mendukung rupiah, tetapi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga minyak masih menjadi risiko yang dapat mendorong permintaan terhadap dolar AS," ungkap Amru.

Ke depan, pergerakan rupiah disebut akan dipengaruhi oleh efektivitas kebijakan stabilisasi BI, perkembangan DXY, serta respons investor terhadap ketidakpastian di pasar keuangan domestik.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.986 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.006 per dolar AS.