NADIKABAR.COM — Menurut Interpol, kecerdasan buatan (AI) memfasilitasi ancaman siber dengan meningkatkan taktik kejahatan yang sudah ada. AI lebih bersifat meningkatkan teknik kejahatan yang sudah ada alih-alih merevolusinya, menurut Bjorn R. Watne selaku Global Chief Information Security Officer Interpol.
Pelaku penipuan dapat menggunakan AI untuk menargetkan banyak korban secara bersamaan, sementara teknologi terjemahan dan identitas digital yang makin canggih membuatnya makin sulit untuk membedakan antara interaksi penipuan dengan interaksi asli. "Ini adalah sebuah evolusi dan bukan revolusi," kata Watne.
Seiring berkembangnya ancaman siber, perusahaan harus memprioritaskan langkah perlindungan. Watne menyarankan perusahaan terlebih dulu mengidentifikasi aset paling krusial untuk menjaga kelangsungan operasional bisnis, lalu menentukan siapa pihak yang paling tertarik untuk mencuri atau mengganggu aset tersebut.
Setelahnya, mereka dapat memanfaatkan intelijen ancaman untuk memahami taktik serta teknologi yang digunakan para musuh, lalu menyesuaikan sistem pertahanan berdasar informasi tersebut.
"Perusahaan tidak perlu berusaha melindungi diri dari segala ancaman secara bersamaan jika bukan target dari ancaman tersebut," ujarnya. Sistem pertahanan yang dibutuhkan bisa berbeda-beda, tergantung apakah sebuah perusahaan menghadapi penjahat oportunistik atau ancaman persisten.