Perusahaan juga sering kali terhambat tidak adanya keselarasan antara manajemen senior dengan strategi keamanan siber. "Masih banyak industri belum menyadari bahwa saat ini tiap perusahaan pada dasarnya adalah perusahaan TI," tambah Watne yang dikutip NadiKabar dari CNBC.

Meskipun risiko siber kini menduduki peringkat yang makin tinggi dalam daftar risiko perusahaan, isu keamanan siber belum sepenuhnya menjadi agenda utama di tingkat dewan direksi pada banyak perusahaan.

Watne mengaku sangat mewaspadai agentic AI, yaitu AI yang dirancang bertindak secara otonom seiring makin mampunya teknologi ini mengambil tindakan atas nama penggunanya. Kesalahan yang terjadi tak sebatas memberikan informasi keliru, namun bisa meluas hingga menimbulkan konsekuensi nyata di dunia fisik.

"Memberikan informasi yang salah itu satu hal. Namun, ketika AI benar-benar menjalankan suatu tindakan dan mulai melakukan kesalahan, terutama di ranah fisik, hal tersebut dapat berisiko mencelakai fisik manusia," cetusnya.

Ia menyoroti meningkatnya penggunaan AI pada berbagai perangkat seperti kendaraan otonom sebagai salah satu bidang yang memprihatinkan.