Tahun lalu, lautan dunia menyerap tambahan panas sebesar 23 zettajoule, mencetak rekor baru sembilan tahun berturut-turut. Jumlahnya setara energi 12 bom Hiroshima yang meledak setiap detik selama setahun penuh.

Semua panas ini menimbulkan efek berantai sangat besar, memicu gelombang panas laut, memperkuat badai, merusak kehidupan laut, serta meningkatkan laju kenaikan permukaan laut, baik akibat mencairnya es maupun karena air yang lebih hangat memakan volume ruang lebih besar.

Rata-rata permukaan laut global naik sekitar 3,8 milimeter per tahun sejak 1999 dengan total hampir 4 inci dan lajunya makin cepat sejak tahun 2012 sehingga membahayakan ratusan juta orang di kawasan pesisir. Keasaman lautan meningkat sekitar 17% sejak tahun 1985, seiring makin banyaknya polusi karbon yang diserap.

Pengasaman laut sering dijuluki kembaran jahat perubahan iklim karena kerusakan yang ditimbulkannya pada ekosistem bawah laut, termasuk membuat hewan laut seperti tiram, lobster, dan terumbu karang kesulitan membentuk serta mempertahankan cangkang dan kerangka.

Beberapa wilayah sangat terdampak oleh perubahan seiring memanasnya Bumi. Laut Mediterania dan Laut Hitam sama-sama mengalami rekor gelombang panas laut pada tahun 2024, di mana beberapa di antaranya berlangsung lebih dari 30 hari dan melonjakkan suhu air hingga lebih dari 4,6 derajat Celsius di atas rata-rata.