"Peristiwa ini terjadi di tengah tren pemanasan laut berkelanjutan yang terus mengubah kondisi ekosistem laut," kata Blanca Fernandez-Alvarez, penulis laporan sekaligus peneliti The Mediterranean Institute for Advanced Studies yang dikutip NadiKabar dari NadiKabar.

Kondisi ekstrem lautan ini membawa dampak besar bagi manusia. Laporan tersebut menyoroti Badai Louis tahun 2024, yang memicu ombak 7,9 meter di beberapa pesisir Spanyol, menyebabkan korban jiwa, pemadaman listrik, dan kerusakan infrastruktur.

Pada tahun yang sama, badai membawa angin kencang berkepanjangan ke Teluk Bothnia, antara Swedia dan Finlandia. Saking banyaknya air yang terdorong keluar dari teluk, permukaan air laut anjlok hingga sekitar 1,5 meter, memaksa kapal feri berhenti beroperasi 18 jam.

Beberapa perubahan laut terbesar terjadi di Arktik yang memanas dengan cepat, di mana suhu permukaan laut naik 4,2 derajat Celsius empat dekade terakhir. Rata-rata tingkat es laut bulanan merosot 190.000 mil persegi per dekade antara tahun 1979 dan 2025, setara kehilangan daratan seluas Spanyol setiap 10 tahun.

Di belahan Bumi lainnya, rekor penyusutan es laut Antartika terendah pada tahun 2022 terjadi bersamaan dengan rekor kegagalan perkembangbiakan massal penguin Kaisar yang pertama kali tercatat. Ini pertanda perubahan iklim mengubah habitat spesies yang bergantung pada es.