Ia pun membeberkan dalam proses pengadaan, Pertamina sering dihalangi oleh negara-negara lain yang menawarkan harga lebih tinggi dari perusahaan. Padahal, Pertamina telah memenangkan tender dengan harga lebih murah.
"Nah, ini kita belajar, ada beberapa negara kita sudah tender, Pertamina sudah menang dengan harga murah di negara mereka, kemudian setelah itu kalau ada negara lain yang datang membeli dengan harga yang lebih mahal, maka Pertamina selalu dijadikan nomor ke-sekian," beber Dony.
Bahlil menyampaikan dengan melibatkan BLU Lemigas dalam pengadaan langsung antarnegara, pemerintah berharap Indonesia memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat, fleksibel dalam memilih sumber energi, serta menutup celah persaingan harga yang kerap merugikan saat menggunakan tender lama.
"Selama ini Pertamina melakukan proses B-to-B tendernya lama, dan dengan Perpres ini kita melakukan G-to-G dan G-to-B. Artinya, kita sekarang sudah bisa melakukan pilihan-pilihan negara-negara mana aja yang kita akan ambil," jelas Bahlil.