NADIKABAR.COM — Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), E. Aminudin Aziz menyebut pentingnya memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam upaya pelestarian naskah kuno Nusantara sebagai penguatan memori kolektif bangsa.
"Selama ini Perpusnas terus berupaya memanfaatkan AI dalam pelestarian naskah. Salah satu staf kami yang merupakan lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah mengembangkan algoritma untuk mendeteksi tingkat atau jenis kerusakan pada naskah," katanya dalam taklimat media tentang merawat ingatan kolektif bangsa di Jakarta, Senin.
Aminudin mengemukakan pengembangan aplikasi tersebut diharapkan dapat membantu membedakan penyebab kerusakan, misalnya akibat serangga, kelembapan atau jamur, sekaligus membantu menentukan tindakan penanganannya. Selain itu, pemanfaatan AI dinilai dapat membantu mengurangi subjektivitas dalam menentukan tingkat kerusakan naskah.
"Selama ini, penilaian kerusakan masih sangat manual, sehingga hasil penilaian dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya. AI diharapkan memberikan hasil yang lebih konsisten setelah melalui pengujian berulang," ucap Aminudin.
Namun demikian, Perpusnas mengakui pemanfaatan AI untuk membaca naskah kuno dan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia belum berjalan secara optimal, mengingat saat ini, teknologi pembacaan teks relatif lebih mudah diterapkan pada tulisan dengan aksara yang sudah umum, seperti Latin, China, Arab, dan beberapa bahasa utama lainnya.
"Tantangannya adalah naskah Nusantara yang menggunakan aksara, seperti aksara Sunda, aksara Jawa, dan aksara lainnya yang belum dapat dibaca secara otomatis dengan tingkat kemampuan yang sama. Oleh karena itu, kita akan meningkatkan kolaborasi antara ahli naskah dan ahli AI untuk menghasilkan teknologi yang sangat bermanfaat, utamanya dalam pelestarian naskah kuno Nusantara," paparnya.
Hingga saat ini, pengembangan tersebut belum menjadi prioritas karena keterbatasan anggaran. Apabila riset tersebut dapat dijalankan, teknologi AI berpotensi memberikan manfaat besar, utamanya meningkatkan keterbacaan dan akurasi naskah secara objektif, sehingga pemanfaatannya dapat lebih luas menjangkau masyarakat nasional maupun internasional.
Perpusnas mencatat hingga bulan September 2026 sudah ada 261 naskah kuno Nusantara, baik yang dimiliki perseorangan atau lembaga yang telah didaftarkan dalam sistem Khazanah Pustaka Nusantara (Khastara).
Perpusnas mengajak masyarakat atau komunitas yang memiliki koleksi naskah kuno untuk secara aktif mendaftarkannya dalam sistem tersebut agar mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas.