NADIKABAR.COM — Ketahanan energi dan ketahanan pangan menjadi hal penting bagi setiap negara. Oleh karena itu, PT Pertamina (Persero) turut mengambil peran dalam mendukung ketahanan energi dan pangan melalui program Desa Energi Berdikari (DEB).
Pada program itu, setiap desa didorong untuk tidak mengandalkan energi fosil sebagai bagian dari kehidupan, melainkan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) dan teknologi tepat guna untuk mendukung produktivitas di daerahnya, misalnya di DEB Dusun Bondan, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap yang memanfaatkan PLTS dan PLTB untuk menghasilkan listrik.
Corporate Secretary PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita mengatakan bahwa dari hasil energi yang dihasilkan itu kemudian digunakan masyarakat desa tersebut memanfaatkannya untuk menerangi desa yang sebelumnya desa tersebut gelap gulita. Kemudian juga energi ini digunakan untuk mendukung berbagai aktivitas produktif, termasuk penyimpanan hasil perikanan dan pertanian.
"Di sini temen-temen sudah menemukan cara untuk bisa menggunakan energi secara bijak dan secara sendiri, menggunakan potensi alam yang ada nah itu yang coba kita lakukan sebagai filosofi dasar, sehingga disini adalah ketahanan energi," kata Arya dalam acara Pertamina Talk Episode 3 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026).
Untuk ketahanan pangan, Arya bilang bahwa masyarakat di DEB Dusun Bondan kini sudah bisa menjaga hasil tambaknya dengan melakukan penyimpanan hasil tangkapannya ke dalam tempat pendingin yang dihidupkan melalui PLTS dan PLTB.
"Di tempat yang lain ada juga yang bisa mendapatkan kesempatan pangan dua kali dalam setahun, yang tadinya 35 ton berasnya itu bisa 75 ton setahun karena hanya menggunakan pendekatan DEB," katanya.
"Jadi kita bisa membantu masyarakat ketahanan pangan dan juga ketahanan energi," sambungnya.
Sebagai informasi, saat ini Pertamina telah mengembangkan sebanyak 310 Desa Energi Berdikari. Dari total 310 Desa Energi Berdikari yang telah dikembangkan, mayoritas memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Tercatat sebanyak 274 desa menggunakan PLTS, disusul 25 desa memanfaatkan biogas dan 8 desa menggunakan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH). Selain itu, terdapat dua desa yang mengembangkan biodiesel dan satu desa menggunakan pembangkit listrik hybrid yang menggabungkan tenaga surya (PLTS) dan tenaga angin (PLTB).