"Ketika pertama kali kami mendengar dari kelompok tani, kelompok masyarakat dari para petani di Desa Jatisura, kondisi unsur haranya memang sudah 'sakit', yang tadinya ditanami 2 kali setahun itu nggak bisa. Nah, makanya pertama kali yang kita lakukan, yang kita cek itu adalah unsur hara dengan melalui laboratorium yang berada di Universitas Padjadjaran," ujarnya.
"Dari lab itu kita tahu kandungan eh dari kandungan unsur hara elemen mana yang memang kurang dan elemen mana yang masih cukup baik. Di sanalah kita bisa melakukan proporsionalisasi pupuk," jelas Taufiq lagi.
Tak berhenti di sana, di saat yang bersamaan Pertamina juga membangun lima titik sumur bor untuk meningkatkan pengairan lahan pertanian, memberikan bantuan pengaplikasian agen hayati Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), serta memasang Rumah Burung Hantu (Rubuha) guna mengendalikan serangan hama tikus secara alami.
Langkah penanganan komprehensif tersebut terbukti memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan volume panen petani dari 6,5 ton per hektare jadi 8,5 - 11 ton per hektare. Keberhasilan ini juga mendorong peningkatan frekuensi panen dari satu kali menjadi dua kali dalam setahun, sekaligus menekan biaya perawatan tanaman.